Home Berita Terkini Usia, Makanan, dan Khidmat

Usia, Makanan, dan Khidmat

378
0
Foto : Istimewa

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Ketua PB PGRI)

Ada yang mengatakan, “Usia hanyalah sebuah angka”. Kata-kata ini cukup memberi motivasi agar kita tetap semangat dan tetap aktif memberi manfaat. Jangan karena “angka” kita menjadi melow. Hidup harus dinikmati. Usia jangan jadi halangan.

Ada juga yang membahas terkait makanan. Pepatah bijak mengatakan, “Bukan makanan enak yang mesti kita nikmati melainkan makanan sehat”. Makan enak hanya memuaskan lidah. Namun makanan sehat memberi dampak positif pada seluruh badan.

Ada seseorang mengatakan, “Hidup berarti bila kita berkhidmat”. Pepatah ini memberikan motivasi agar kita bermental memberi menfaat pada kehidupan sesama. Khidmat dengan pendekatan kerahmatan bagi sesama wajib dilakukan dalam keseharian kita.

Usia, makanan dan khidmat menjadi bagian pentng dalam kehidupan kita. Untuk usia setidaknya ada dua macam. Pertama usia kronologis. Kedua usia biologis. Usia kronologis adalah usia yang tertera dalam KTP.

Usia biologis adalah usia bagaimana vitalitas kita saat ini. Ada yang usia 50 tahun terlihat 40 tahun. Ada usia 50 tahun terlihat bagaikan usia 60 tahun. Itulah usia biologis. Usia biologis bisa kita kendalikan dengan pola hidup yang baik.

Makanan pun ikut menentukan usia biologis. Makan yang baik itu bukan pakai rasa lidah tetapi pakai otak. Usia pun menentukan apa yang mesti dimakan. Usia ABG layak mengkonsumsi makan yang enak-enak. Tidak ada masalah.

Bahkan Jokowi mengatakan saat bayi dalam kandungan agar tidak terkena stunting maka harus diberi nutrisi dan asupan yang baik. Pola keluarga Yahudi untuk urusan ini sangat wow. Ibu hamil di bangsa Yahudi sangat diperhatikan. Di kita kadang biasa-bisa saja.

Bisa jadi usia biologis pun ditentukan sejak dalam kandungan. Apa yang diminum Sang Ibu dan apa yang dimakan akan sangat menentukan usia biologis, tinggi badan dan kecerdasan. Jangan sembarangan makan dan minum saat hamil. Mengapa? Karena untuk kepentingan dua orang.

Bahkan dalam hal makanan pun setidaknya ada dua jenis makanan. Pertama makana halal. Kedua makanan haram. Makanan haram adalah makanan yang didapatkan dengan usaha haram. Korupsi, gratifikasi, amplop dari bawahan dan kejahatan lainnya.

Saat ini sedang ramai oknum kejaksaan korup, jual beli hukum padahal harusnya menegakan hukum. Nah rezeki hasil korup semacam ini termasuk rezeki haram bagi keluarga. Ini akan sangat berdampak negatif bagi keluarga. Tidak menutup kemungkinan keluarga oknum kejaksaan itu suatu saat akan melahirkan generasi korup juga.

Dalam dua piring berbeda bisa saja ada dua makanan yang sama-sama sehat dan penuh giji secara material. Namun satu piring haram, satu piring lagi halal. Tidaklah mungkin dampaknya akan sama antara makanan haram dengan makanan halal. Agama memerintahkan memakan makanan yang halal.

Sungguh akan sangat indah dan sehat bila apa yang kita makan adalah makanan sehat dan halal. Sehat secara materi dan nutrisi, plus halal. Sungguh akan sangat rugin bila apa yang kita makan enak tetapi tidak sehat untuk tubuh. Hanya enak untuk lidah.

Kolesterol, jantung, asam urat, darah tinggi dan sakit kepala bisa karena makan enak yang tidak sehat. Maka makanlah makanan yang sehat bukan makanan enak semata. Makanlah pakai otak bukan pakai lidah semata. Biarkanlah makan enak bagi para ABG. Orang dewasa sebaiknya dewasa dalam memakan sesuatu.

Usia biologis, makanan sehat dan khidmat adalah tiga hal penting. Bisakah usia biologis lebih baik dari usia kronologis kita? Bisakah kita mulai pola baru menghindari makanan enak, mulai dengan makan sehat? Bisakah kita mengutamakn khidmat pada sesama?

Usia panjang, sehat, bahagia dan bermanfaat adalah pilihan semua orang. Hidup yang wow adalah hidup yang sehat dan memberi manfaat pada sesama. Apa yang sudah kita lakukan untuk kesehatan diri? Apa yang sudah kita lakukan untuk orang lain?

Sukses untuk diri sendiri itu bisa dilakukan oleh hampir semua orang. Sukses untuk orang lain hanya dilakukan oleh beberapa orang saja. Oleh orang yang tahu bahwa sukses sebenarnya adalah bermanfaat bagi orang lain. Berkhidmat pada kesejahteraan bersama. Bisakah kita demikian?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here