Home Berita Terkini Penghormatan dan Ziarah Kubur Menyambut Hari Jadi ke-74 PGRI dan HGN...

Penghormatan dan Ziarah Kubur Menyambut Hari Jadi ke-74 PGRI dan HGN 2019

102
0
Foto : Renkganis

Guru merupakan poros utama pendidikan. Ia penentu dalam tujuan pendidikan demi kemajuan suatu bangsa. Jasanya kekal abadi tak akan lekang terkikis zaman. Bangsa yang berbudi, tak pernah melupakan perjuangan dan jasa guru-gurunya.

Hari guru diperingati secara berbeda-beda setiap negara. 25 November menjadi hari spesial bagi para guru, karena hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diperingati menjadi Hari Guru Nasional (HGN).

Menjelang hari jadi ke-74 PGRI, ribuan guru DKI Jakarta bersama Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., Sekjen PB PGRI, Drs. Ali Arahim, M.Pd., Gubernur DKI Jakarta Bapak H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D, dan para Pengurus Besar PGRI melakukan penghormatan kepada pahlawan pendidikan di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata (TMPN Utama Kalibata), Jumat, 22 November 2019.

Selanjutnya rombongan melakukan tabur bunga di beberapa makam pahlawan pendidikan. Hadir pula Dr. M.Q. Wisnu Aji, S.E., M.Ed. (Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan), Syaefuloh Hidayat, SST., MAP. (Plt Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta) dalam ziarah kubur dan tabur bunga di TMPN Utama Kalibata.

Syaefuloh mengucapkan selamat hari guru, ia mengajak kepada seluruh guru khususnya guru di DKI Jakarta untuk terus melayani dan memberikan suri tauladan kepada siswa-siswi. Beliau mengimbau agar guru melayani peserta didik sesuai dengan kebutuhan (minat dan bakat) serta melayani dengan hati.

Menurutnya banyak hal yang perlu dilakukan oleh para guru untuk meningkatan kapasitas dirinya. Pertama, di pola rekrutmen, penempatan guru sesuai dengan kompetensinya, pendidikan dan pelatihan juga harus terus dilakukan.

Pengembangan-pengembangan dan kapasitas guru penting sekali. Kalau di Jakarta, ada PPKPTKK sebagai tempat untuk guru mengembangkan keahlian mereka.

“Hal yang perlu dibagun oleh guru adalah karakter, tidak serta merta mengembangkan karakter kepada peserta didik. Namun, guru harus menjadi guru yang berkarakter, melayani dengan setulus hati dan memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik”, jelas Syaefuloh.

Menurut Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., saat diwawancarai Suara Guru di TMPN Utama Kalibata, dari awal PGRI menyadari bahwa kita pada zaman itu berperang melawan kebodohan dan kemiskinan. Kemudian PGRI adalah wadah aspirasi guru merekatkan NKRI dan memajukan pengajaran nasional. Perjuangan PGRI terjadi pada tataran konsep, tataran real, terus menerus diperjuangkan. Banyak hal yang sudah dihasilkan PGRI dalam memperjuangkan guru baik untuk kualitas, perlindungan profesi, maupun untuk kesejahteraan.

Lanjut Unifah, PGRI selalu responsif memosisikan diri untuk adaptif dan responsif terhadap perubahan, contohnya kita mau mendorong bagaimana perubahan pola pikir(mindset) di era digital, maka PGRI tidak hanya bicara mengenai tataran konseptual. PGRI mendirikan smart learning centre, membuat  pelatihan, melakukan diskusi dengan para ahli, dan terus menerus menjadikan PGRI sebagai rumah belajarnya para guru, bukan sekadar rumah untuk bertemu. Sebagai rumah belajarnya para guru, maka guru tidak boleh berhenti belajar, bersama dengan siswanya. Terkait aspirasi guru, kita memosisikan guru sebagai mitra strategis pemerintah. Artinya banyak program-program yang dapat sukses karena kita menyampaikan gagasan / pemikiran – pemikiran dan pendampingan langsung di pemda hingga pusat.

Tidak hanya itu, mantan Menteri Pendidikan yang kini menjadi orang nomor satu di DKI, H. Anies Rasyid Baswedan, S.E., M.P.P., Ph.D. juga menyampaikan bahwa kita berada di taman makam pahlawan memberikan penghormatan kepada pahlawan pahlawan berjasa bagi bangsa dan negara. Indonesia bisa merdeka seperti ini karena usaha kaum terdidik ketika pendidikan mulai dirasakan oleh bangsa Indonesia. Muncul kelompok baru orang-orang yang berpendidikan, bacaannya luas, semangatnya tinggi, integritasnya tinggi, dan membawa ikatan baru untuk melawan penjajahan sehingga akhirnya kita bisa merdeka. Jadi pendidikan adalah kunci utama ketika kita bisa meraih kemerdekaan dan di dalam kunci itu ada guru. “Oleh karena itu, peran guru sangat mendasar sekali, tanpa ada guru-guru yang mendidik kita, tidak mungkin kemerdekaan itu diraih,” ungkap Anies.

Kedua, empat bulan setelah kemerdekaan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dibentuk untuk meneruskan tradisi perjuangan guru dalam sebuah organisasi. Oleh karena itu, harapannya adalah PGRI terus maju, terus memberikan manfaat, dan menjadi pilar pendorong kemajuan. “Sebagaimana sejarah pendiriannya, karena PGRI didirikan oleh guru-guru pejuang yang memilih berorganisasi,”  jelas Anies.

Ketiga, “zaman berubah teramat cepat karena itu penting sekali bagi siapa pun yang berada di dunia pendidikan apalagi menjadi guru dan kepala sekolah, maka jadilah pembelajar terus menerus. Belajar terus menerus mengambil ilmu yang baru dan hadirkan di ruang-ruang kelas, di arena-arena pendidikan. Dengan itu, bangsa Indonesia insya Allah menjadi bangsa yang pembelajar,” tegas Anies.

Menurutnya, PR terbesar bagi guru saat ini ialah guru perlu meningkatkan kemampuan belajar. “Dengan menjadi guru bukan berarti sudah selesai dengan belajar justru menjadi guru memiliki kewajiban moril terus menerus belajar,” penutup dari Anies Baswedan saat diwawancarai Suara Guru pada penghormatan dan tabur bunga di TMPN Utama Kalibata.

Widya/CNO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here