Home Berita Terkini Menata Sensitivitas Malu

Menata Sensitivitas Malu

154
0


Oleh: Syam Zaini
Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tengah


Rasa malu sangat berkaitan dengan apakah kita perasa atau tidak. Letaknya ada di hati dan yang lebih mengetahui adalah kita dan yang menciptakan kita, yakni Allah Subhaanahu wa Ta’ala (dari sudut pandang agama).

Seringkali ucapan sepert; “I’m tired or I’m a bit lazy” dianggap suatu ucapan yang baik, padahal ini bernuansa negatif, hanya saja yang mengucapkan tidak merasa, kalau sudah tidak merasa, maka rasa itu akan hilang.

Ada sebagian orang lupa, jika kita berkata yang bernuansa negatif, selalu kebencian yang diucapkan, maka hasilnya akan negatif. Setiap hari, setiap jam selalu saja ujaran kebencian yang ditulis dan diucapkan, tentunya harus dibedakan antara kritik dan benci. Benci menyerang personal, namun kritik memberi masukan kepada suatu kebijakan tertentu. Sebaliknya, jika setiap hari kita selalu berpikir positif, saling memberikan motivasi, maka hasilnya pun akan positif juga. Tentunya berbeda antara memberi apresiasi dengan pujian yang bersifat menjilat.

“Memuji seseorang melebihi dari yang ia berhak untuk menerimanya sama dengan menjilatnya, namun melalaikan suatu pujian bagi seseorang yang berhak untuk menerimanya menunjukkan kebodohan atau kedengkian”.
(Ali bin Abi Thalib ra)

Maka tidak salah jika guru-guru kita selalu menyampaikan, bergaullah dengan teman-teman yang positif, karena akan diharapkan aura positifnya akan mengimbas kepada yang lain. Misalnya jika kita mengatakan kita harus dapat memperolehnya, maka kita akan mempunyai peluang untuk mendapatkannya, demikian sebaliknya. Ucapan “I’m tired or I’m a bit lazy” harus dihindarkan sejauh mungkin apalagi dalam konteks sebagai pengurus PGRI. Berpikir positif, maka akan menghasilkan kekuatan positif, namun jika selalu berpikir negatif hasilnya pun akan negatif.

Sepenggal kisah Nabi Yusuf AS, yang pernah berkata: “Ya Tuhan, sungguh penjara lebih aku sukai daripada mengikuti ajakan mereka”. Tak lama kemudian, Yusuf AS. dimasukkan ke penjara, meskipun ucapannya positif, untuk menyelamatkan dirinya dari hal yang tercela dan bermaksiat.

Mengucapkan sesuatu yang negatif, akan melemahkan diri sendiri, bahkan menimbulkan keputusasaan. Mari jadikan rasa dalam setiap kita melangkah, agar semangat tetap terjaga dan terhindar dari ucapan yang negatif.

Rasa malu diperlukan bagi setiap individu maupun pengurus organisasi PGRI yang kita cintai. Konteks malu bukan berarti rendah diri, namun lebih dikaitkan dengan motivasi untuk lebih baik lagi dari sebelumnya. Malu kepada diri sendiri jika tidak maksimal mengemban amanah, malu terhadap anggota maupun orang lain yang menyindir keberadaan PGRI sebagai wadah organisasi guru yang (dianggap) belum peduli terhadap mereka, jadikan itu dorongan dan vitamin untuk melawan rasa malu.

Sebagai pendidik kita malu jika datang terlambat, malu jika cepat pulang belum waktunya, malu jika tidak memiliki rasa peduli kepada peserta didik. Sebagai kepala sekolah, malu jika gurunya duluan datang ke sekolah, malu jika selalu ditegur atasan atas semua keterlambatan. Sebagai pengurus organisasi PGRI, malu jika anggota tidak terdata dengan baik, malu jika tidak pernah membuat pelatihan penguatan kapasitas pengurus, malu jika tidak ada kegiatan untuk pengembangan profesi guru, malu jika tidak membela guru yang bermasalah dengan hukum, malu jika tidak pernah menyuarakan nasib guru honorer, malu jika belum melunasi iuran.

Tentunya aura positif dari setiap ucapan motivasi sangat dibutuhkan, bukan hanya habis di ujaran kebencian saja tanpa solusi yang kongkrit. Melihat daerah lain dengan seabrek kemajuan, tentunya menjadi semangat kepada diri dan pengurus; kok mereka bisa seperti itu ya, apa sih rahasia kesuksesannya? Jangan habiskan waktu kita hanya untuk habis jalan-jalan dengan alasan “study banding”, dan hanya habis “membanding-bandingkannya” di warkop saja, tidak ada tindak lanjutnya.

Dunia ini indah, jika kita memandangnya dengan dengan rasa sensitivitas yang positif. Bunga anggrek yang mekar dan memesona di Gunung Mas akan terlihat gersang, jika hati kita negatif. Sebaliknya tatapan mata seekor Komodo di Labuan Bajo, NTT akan terlihat “mesra” jika rasa hati kita positif. Nikmatilah semuanya, tidak ada hujan sebelum adanya panas.

Wassalam, tabe.


Palu, 28.01.20

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here