Home Berita Terkini Jaringan Tertidur dan Terkotak!

Jaringan Tertidur dan Terkotak!

91
0
Foto: Ilustrasi

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Guru SMA Dan Ketua PB PGRI)

Entitas sarjana terbesar di negeri ini ada di organisasi profesi guru. Sayangnya organisasi profesi guru ini terpecah ke dalam puluhan organisasi profesi. Andaikan mereka bersatu dalam satu wadah, maka dapat dipastikan orprof guru akan menjadi paling kuat di negeri ini.

PGRI adalah bagian dari organisasi profesi guru pelopor dan terbesar. Idealnya PGRI terus membenahi diri dan organisasi profesi guru di luar PGRI sebaiknya berfusi dengan PGRI. Semua organisasi profesi guru yang ada di luar PGRI masuk di PGRI dan pentolannya menjadi pengurus inti di PGRI.

Bila para guru tidak punya organisasi profesi induk yang menjadi rumah perjuangan semua guru, maka aspirasi guru tidak akan didengar. Guru selamanya akan dianggap periferal atau subordinan. Silahkan para guru untuk terus teriak dan tidak akan terlalu didengar selama tidak bersatu dalam satu wadah induk.

Daya tawar potensi guru itu di antaranya: 1) SDM semua sarjana, 2) jumlahnya menuju 4 juta, 3) semua daerah sampai pelosok ada gurunya, 4) mayoritas guru kolaboratif dengan masyarakat di tempat mereka tinggal, 5) sejumlah guru adalah penulis, penda’wah, dan punya usaha, 6) punya jutaan anak didik, dan 7) guru adalah penggerak perubahan dan kekuatan politik, ekonomi.

Potensi yang terserak itu tidak akan bermanfaat siginifikan. Sapu lidi itu hanya bisa efektif dan jauh lebih bermanfaat bila semua lidi diikat dan disatukan. Semua “kotoran dan sampah” bisa disapu dengan baik. Sayang sekali organisasi profesi guru ini terpecah ke dalam berbagai faksi-faksi. Terkotak, sayup-sayup, dan sebagian tertidur.

Melihat webinar dan lokakarya daring berseri PGRI yang diikuti lebih dari 15 ribu peserta mewakili semua guru Indonesia, menjelaskan ada gerakan MO dalam istilah Prof. Rhenald Kasali. Ada MO (Mobilisasi dan Orkestrasi) dalam webinar PGRI. Sejumlah pakar hadir di antaranya adalah Duta Besar Uzbekistan Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata. Ada tokoh Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.

Hadir pula cendikiawan Prof. Dr. Komarudin Hidayat dan sejumlah pakar lainnya plus sejumlah guru-guru berprestasi. Ini adalah gerakan MO yang terjadi dalam tubuh para pendidik. Khususnya, di organisasi PGRI, ini adalah sebuah momentum membangunkan potensi “Sarjana Tidur”. Mobilisasi dan Orkestrasi yang masif harusnya bertumbuh dalam entitas guru Indonesia.

Idealnya semua guru masuk dalam satu wadah organisasi profesi. Semua guru potensial masuk menjadi pengurus induk organisasi profesi. Kalau pun tidak mau “membubarkan” orprof kecil, maka jadikan bagian dari atau sayap oganisasi induk. Guru Indonesia harus kuat dan didengar! Caranya? Satukan kekuatan dalam satu wadah induk.

Andaikan semua guru bersatu punya TV sendiri, media sendiri, bank sendiri, rumah sakit sendiri, asuransi sendiri, alfamart/indomart sendiri. Nampaknya akan jauh lebih kuat! Masa jutaan guru yang sarjana kalah sama Atta Halilintar dan Baim Wong yang hidup dari youtube? Bisakah semua guru like dan subscribe pada program internalnya?

Bila kita hitung kekuatan guru dengan jaringannya bisa mencapai lebih dari 20 juta. Guru dengan keluarganya, saudaranya, anak didiknya bahkan bisa melebihi 20 juta jaringan. Bila jaringan ini dibangunkan dan menjadi kekuatan perjuangan dan pasar, maka dahsyat sekali. Atta Halilintar dan Baim Wong, lewat!

Selama kita tertidur dan terkotak, maka selama itu pula kita hanya besar tapi ngorok. Harimau dan singa besar yang tidur dan ngorok akan kalah sama Hiena kecil yang kompak bersatu, lincah, dan tak terkomando. TNI dan Polri jumlahnya hanya seperempat dari jumlah guru, kekuatan mereka lebih baik. Mengapa? Dalam satu komando! Esprit de corpsnya hebat!

Editor: Catur NO.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here