Home Berita Terkini Hadiah PGRI di tengah Pandemi

Hadiah PGRI di tengah Pandemi

2442
1
Webinar Guru Daring Milenial Self Driving for Teacher

Oleh : Rirry Asril Putery, M.Pd.

Beberapa tahun yang akan datang, momentum perayaaan Hardiknas (hari pendidikan nasional) di tahun 2020, akan tercatat dalam sejarah yang tak terlupakan. Sejak peringatan Hardiknas ditetapkan melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959, tertanggal 28 November 1959, baru kali ini peringatannya dilaksanakan dalam keadaan yang tak ideal. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) sebagai organisasi resmi profesi guru, yang menaungi seluruh guru di Indonesia, tak langsung mati gaya dalam menyikapi kondisi yang demikian.

PGRI tetap menggelorakan semangatnya, dengan membuktikan apa pun kondisinya, peringatan Hardiknas tetap dilaksanakan, sebagai bentuk rasa syukur dan refleksi terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Dengan kecakapannya, PGRI menggagas program yang sangat luar biasa menjadikan Hardiknas tetap spesial, walaupun dalam situasi yang tak ideal. Hardiknas menjadi spesial, karena dijadikan sebagai momen untuk merenungkan, seberapa besar porsi kita dalam mengisi kemerdekaan, khususnya peran kita sebagai guru yang harus konsisten, dalam memberi kebermanfaatan terhadap kemajuan bangsa.

Mas Menteri dalam sambutannya menyampaikan, bahwa era pandemi ini, membuat setiap elemen yang berpengaruh dalam pendidikan, semakin memahami arti perannya masing-masing, bagi kemajuan pendidikan bangsa. Karena pandemi, guru jadi memahami pembelajaran, dengan platform yang berbeda dari biasanya, semisal moda daring yang kini menjadi suatu keniscayaan; orang tua memahami dan berempati akan tugas guru, yang begitu multitasking; peserta didik mengetahui bahwa pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Dan untuk mencapai keberhasilan pendidikan saat pandemi, dibutuhkan kolaborasi di antara ketiga elemen tersebut.

Peringatan Hardiknas tahun ini menandai pendidikan Indonesia telah sampai kepada babak baru, yaitu babak PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Perjuangan guru membimbing peserta didik, melewati PJJ bukan pekerjaan yang mudah. Beberapa kesulitan bermunculan di dalam prosesnya. Dalam kehidupan, kesulitan itu memang terkadang diperlukan. Bisa dikatakan, kesulitan adalah sesuatu yang akrab bagi profesi apa pun, tak terkecuali profesi guru dalam proses menjalankan tugasnya. Bagi guru, kesulitan itu ibarat sebuah energi, yang bisa memunculkan inovasi-inovasi dalam pembelajaran..

Kesulitan yang muncul pada era pandemi ini, tak hanya dirasakan oleh guru saja, akan tetapi juga dirasakan oleh orang tua dan siswanya sendiri. Bagi guru, betapa sulitnya membangun mindset siswa, agar mau mengikuti pembelajaran online; betapa sulitnya tetap menjaga aura magis pembelajaran di sekolah, yang dipindahkan ke pembelajaran di rumah. Di sisi lain, Bagi orang tua, betapa sulitnya membagi peran, ketika harus menjadi orang tua yang mengurus pekerjaan rumah, mengerjakan urusan kantor dan mengajar atau memfasilitasi anak belajar di rumah; dan bagi siswa, betapa sulitnya bertransformasi dari pembelajaran tradisional ke PJJ.

Kesulitan yang dihadapi guru dalam menjalankan perannya, hakikatnya adalah sesuatu yang biasa. Mengutip pernyataan akademisi dan pemerhati pendidikan Rhenald Kasali, bahwa pendidik adalah penjelajah game sepanjang hayat, yang harus survival dalam game yang dimainkannya demi mencapai kemenangan game. Kemenangan dianalogikan sebagai tercapainya kemajuan pendidikan dan berimbas kepada kemajuan peradaban bangsa.

Jika ditelisik lebih dalam lagi, pandemi ini, menjadi sebuah leader influence yang mengarahkan guru, untuk lebih menguatkan pondasinya, sebagai tokoh yang berpengaruh, terhadap perubahan value bangsa. Dengan kata lain, Pandemi, telah membuat potensi guru meningkat dalam waktu yang cukup singkat. Berawal dari kondisi yang membuat mereka terpaksa, dipaksa bisa, hingga menjadi mahir memanfaatkan IT untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran.

Peka dengan situasi yang ada, PGRI merespon kebutuhan guru untuk meningkatkan potensinya, guna mengatasi kesulitan dari berbagai tantangan dan tuntutan pembelajaran. Dalam rangka perayaan peringatan Hardiknas di situasi yang tak biasa, PGRI menggagas kegiatan yang luar biasa, yaitu program “webinar dan lokakarya daring berseri” dengan tema Self Driving For Teacher. Kegiatan ini diselenggarakan selama 20 hari, dari tanggal 2 Mei sd 20 mei 2020, dengan memadukan dua metode pembelajaran yaitu kelas online secara langsung (Syncronous), dan pembelajaran yang direkam, disediakan dalam platform youtube (Asyncronous), dari pukul 09.00 sd 22.00 setiap harinya.

PGRI memanjakan peserta webinar dan lokakarya daring berseri, dengan membuat rundown yang menarik setiap harinya. Rangkaian kegiatan webinar dan lokakarya daring berseri ini, disusun sedemikian rupa untuk memberikan konten pembelajaran yang terbaik bagi pesertanya. Belasan pemateri atau narasumber yang dilibatkan, merupakan guru-guru hebat, yang tersebar dari ujung barat hingga timur Indonesia. Mereka adalah inspirator yang dipersiapkan, untuk mengubah mindset para guru, dan kemudian bersama-sama bergerak menjadi agent of change, menyongsong pendidikan yang lebih maju.

Nelson Mandela mengatakan, bahwa pendidikan adalah senjata yang paling ampuh untuk mengubah dunia. Bagaimana mungkin pernyataan tersebut dapat terwujud? Jika potensi guru sebagai ujung tombak pendidikan, hanya jalan di tempat, sementara tuntutan zaman tak lagi sama. Pandemi, menjadi cambuk bagi penulis dan rekan-rekan guru untuk lebih maju, meningkatkan potensi, produktivitas diri dan mengembangkan platform pembelajaran ke arah literasi digital. Dengan demikian, diadakannya webinar dan lokakarya daring berseri saat pandemi adalah keputusan yang tepat, sebagai bentuk kepedulian PGRI terhadap kebutuhan guru.

Program webinar dan lokakarya daring berseri ini, menurut penulis, ibarat hadiah Hardiknas yang diberikan PGRI kepada kami para guru, di tengah pandemi. Sebagai bentuk dukungan untuk menyukseskan acara ini, Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, mengintruksikan kepada semua Kepala Sekolah, untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, dan memberikan imbauan kepada seluruh guru yang berada di satuan pendidikan yang dipimpinnya, untuk menjadi partisipan dalam kegiatan webinar dan lokakarya daring berseri tersebut.

Pandemi, menandai terjadi reformasi dalam pembelajaran. Penulis menyadari, sebagai orang yang mendapatkan amanah menjadi pelaksana pendidikan, kami adalah pelaku sejarah, saat terjadinya revolusi pendidikan yang disebabkan Covid-19, yang mengubah cara kita dalam melaksanakan pendidikan pada hari ini dan untuk ke depannya. Oleh karena itu, Penulis dan rekan-rekan guru di Kabupaten Bekasi pada khususnya, serta seluruh guru di Indonesia pada umumnya, sangat menyambut gembira program ini. Kami sangat antusias untuk mendaftar, agar bisa tergabung dalam kegiatan tersebut.

Pada sambutan pembukaan acara ini, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI, Prof. Unifah Rosyidi, M.Pd. mengucapkan selamat bergabung kepada lebih dari 13.000 peserta. Data ini menguatkan, betapa tingginya animo peserta dalam kegiatan ini. Program Webinar dan lokakarya daring berseri, berisikan beragam materi pengembangan diri, yang disajikan dengan begitu komplit, mulai dari pengetahuan dan pemahaman konsep; pengaplikasian digital learning tools untuk teaching new generation; hingga best practice pengembangan diri untuk meningkatkan potensi diri dalam menulis, naik pangkat, leadership dan masih banyak lagi. Semuanya dihadirkan dalam rangkaian kegiatan webinar, sebagai hadiah PGRI pada peringatan Hardiknas, bagi seluruh guru Indonesia.

Pada upacara virtual Hardiknas, Gubernur Jawa Barat menyampaikan, bahwa pendidikan adalah hasil estafet peradaban, dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara yang mengestafetkan dasar-dasar pondasi pendidikan, kepada kita yang hidup di tahun 2020, untuk kita mainkan hari ini sebagai pelaksana tugas pendidikan. Guna mengantarkan generasi saat ini menuju 25 tahun ke depan, sebagai generasi emas di tahun 2045. Dengan kata lain, apa yang kita estafetkan kepada gen Z saat ini, adalah modal mereka untuk memenangkan petarungan di masa depan. Jika kita tidak mengubah mindset kita sebagai pemegang tongkat estafet hari ini, tentu akan berimbas kepada kekalahan Gen Z di masa yang akan datang.

Penulis, yang sebelumnya merasa laksana berjalan di gurun yang tandus, berjalan gontai, penuh kebimbangan mencari keberadaan Oase untuk melepas dahaga pengetahuan yang tak terkira. Kami merasa bagai diberikan peta, diarahkan oleh PGRI, menuju hamparan oase yang dikelilingi mata air dan rimbunnya pepohonan. PGRI seolah mendampingi dan memegang erat para guru hingga sampai tujuan, menuju sumber pengetahuan tersebut. Demikianlah arti webinar ini bagi penulis, dan mungkin juga hal yang sama dirasakan oleh rekan-rekan guru yang lainnya.

Harapannya, dengan diselenggarakan webinar ini, semoga kami para guru yang diamanahkan rezeki intelegensia dari Tuhan YME, dapat merespon kemajuan dunia, dengan menciptakan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran. Dan pascacovid-19 berakhir, dapat mengikuti perkembangan platform pembelajaran selanjutnya. Akhir kata, terimakasih yang tak terhingga kepada Ketua umum PB PGRI beserta jajarannya, yang telah mengadakan kegiatan webinar dan lokakarya daring berseri ini. Ke depannya, semoga program seperti ini berkelanjutan dan menjadi agenda rutin PB PGRI.

Salam PGRI, Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yes!

Editor: Catur N.O.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here