Home Berita Terkini Geliat Pemberdayaan Pendidikan di Komunitas Adat Terpencil Tanjung Beringin

Geliat Pemberdayaan Pendidikan di Komunitas Adat Terpencil Tanjung Beringin

124
0

Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah amanat konstitusi. Untuk mencerdaskan bangsa, dibutuhkan pemerataan pelayanan pendidikan. Semua masyarakat di kota maupun desa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai dari pemerintah. Pemerintah pun berkepentingan memastikan semua masyarakat (tanpa kecuali) mendapatkan perhatian yang sama. Termasuk bagi masyarakat Indonesia yang berada di daerah pelosok dan terpencil.

Ditemani lampu minyak, anak-anak tetap semangat belajar.      sumber foto: Zhilal Darma

Melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI), Pemerintah memiliki program pemberdayaan masyarakat adat terpencil (KAT). Kemensos RI merekrut para tenaga muda sebagai pendamping pemberdayaan masyarakat adat daerah terpencil untuk ditempatkan di 45 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut Zhilal Darma salah seorang petugas pendamping sosial untuk pemberdayaan masyarakat adat terpencil, salah satu tugasnya adalah melakukan pendampingan di bidang pendidikan. Zhilal Dharma bertugas di lokasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) Tanjung Beringin, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Berangkat ke sekolah berjalan kaki sekitar 1.5 – 4 Kilometer.     Sumber Foto: Zhilal Dharma

Jangka waktu tugas tenaga Pendamping Sosial Komunitas Adat Terpencil (KAT) dari Kementerian Sosial RI adalah selama delapan bulan, dari April sampai Desember 2019. Tantangan bagi para tenaga pendamping ini di antaranya adalah lokasi yang terpencil, tidak ada jaringan listrik, infrastruktur yang kurang memadai, sarana dan prasarana terbatas. Seperti lokasi Komunitas Adat di Tanjung Beringin yang berjarak 40 kilometer dari kota kecamatan. Di lokasi ini, sudah ada sekolah dasar negeri dengan beberapa guru PNS dan guru honorer sebagai tenaga pengajarnya. Meski berada di daerah terpencil, namun semangat belajar mereka tinggi. Ke sekolah mereka harus berjalan kaki 1.5 – 4 kilometer tanpa alas kaki (sepatu ditenteng dan dipakai di sekolah).

SD Negeri satu-satunya yang terdekat.                                             Sumber foto: Zhilal Dharma

Seusai belajar di sekolah formal, sore hingga malam hari, anak-anak di komunitas adat Tanjung Beringin juga didampingi mendapatkan belajar tambahan di permukimannya. Ditemani lampu minyak, anak-anak senang belajar bahasa Inggris dan membaca buku-buku yang disediakan. Meski penerangan tanpa listrik dan koleksi buku-bukunya masih minim, namun tidak mengurangi semangat anak-anak untuk membaca menambah pengetahuannya demi masa depan yang lebih baik.

Menurut Zhilal Darma, meski tinggal di daerah terpencil, namun masyarakat di daerah ini sangat mendukung anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang lebih baik. “Toleransi dan keramahtamahan masyarakat di sini sangat baik”, ujarnya. Melihat semangat belajar anak-anak di sini, membuat Zhilal optimis bahwa perubahan masa depan masyarakat di daerah ini akan lebih baik lagi. Harapan masyarakat di sini, agar pemerintah, swasta, atau pihak-pihak yang peduli pada pendidikan dapat mengirimkan buku-buku lebih banyak lagi agar cahaya literasi di Tanjung Beringin tidak akan padam.

Pontianak, 3-4 Agustus 2019
/CNO/
Seperti dituturkan oleh Zhilal Darma kepada Suara Guru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here