Home Berita Terkini Guru yang kreatif, inspiratif, dan Inovatif Tidak Dapat Tergantikan Teknologi: Pidato Kunci...

Guru yang kreatif, inspiratif, dan Inovatif Tidak Dapat Tergantikan Teknologi: Pidato Kunci Gubernur DKI Jakarta pada Kongres ke-XXII PGRI

208
0

Tepat pukul 15.50 WIB, agenda pidato kunci Gubernur DKI dimulai. Diawali sambutan Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd  yang mengucapkan selamat datang kepada Gubernur DKI Jakarta dan menghaturkan terima kasih atas kehadirannya di Kongres ke XXII PGRI, di sela-sela kesibukannya yang padat. Ibu Unifah menyampaikan bahwa para peserta kongres itu datang dari seluruh Indonesia menggunakan berbagai moda transportasi, ada yang naik kapal laut, pesawat, dan transportasi darat.

Sambutan dari Gubernur
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengucapkan selamat datang di Ibukota kepada para peserta kongres ke XXII PGRI. “Kini, Ibukota memerlukan cara pandang baru. Kita semua perlu mendorong perubahan. Alhamdulillah, kini Jakarta mendapatkan penghargaan sebagai salah satu kota terbaik di Indonesia karena perubahan sistem transportasi”, tukas Anies.

Menurut Anies, alat transportasi secara umum yang dimiliki manusia adalah kaki. Karena itu, Jakarta melakukan banyak perubahan sistem transportasi, salah satunya adalah MRT. Gubernur DKI Jakarta akan menggratiskan MRT bagi para peserta kongres. Anies mengatakan bahwa MRT bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga merupakan bentuk pendidikan kolosal tentang ketepatan waktu, budaya antri, dan kesetaraan. DI MRT terdapat pendidikan tentang kebersihan. Tidak disediakan tempat sampah agar para peserta menyimpan sampahnya masing-masing.

Terkait guru dan pendidikan, dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyampaikan komitmen tentang penyelesaian masalah-masalah yang ada pada guru. Sejak Tahun 2018, Provinsi DKI Jakarta telah memberikan hibah kepada 60 ribu kepada guru swasta melalui PGRI, Terkait tema Pendidikan abad ke-21, dunia pendidikan sedang mengalami tantangan besar karena perubahan datang begitu cepat. Anak-anak abad ke-21, Guru-guru abad ke-20, dan gedung-gedung dan sarananya abad ke-19. Guru abad ke-21 tidak semata ditentukan teknologi, yang diperlukan adalah perubahan cara pandang.
Guru macam apa yang tidak bisa digantikan teknologi. Guru yang mekanistik dapat digantikan powerpoint. Guru yang kreatif, inspiratif, dan inovatif tidak dapat tergantikan teknologi. Kalau guru abad ke 21 memerlukan 4C. (Critical, Creative, Collaboratif, dan Communication). Tantangan guru saat ini adalah bagaimana menjadi guru yang memiliki pondasi karakter yang kuat, Creative, Collaboration, dan Communicative. Guru bukan hanya profesi pekerjaan. Guru adalah panggilan. Menghormati guru adalah salah satu menghargai bangsa.

Tahun 2039, Anak-anak kita kumpul dalam suatu diskusi tentang nama-nama gurunya, Apakah nama kita disebut sebagai guru yang menyenangkan?

Jika kita sebagai guru yang menyenangkan, maka nama guru itu akan diingat. Mari pastikan guru-guru PGRI adalah guru yang diingat dan berkesan bagi anak-anak murid kita. Di masa depan, anak-anak kita akan berkompetisi di masa depan, jadi guru-guru harus mengenalkan kepada anak-anak teknologi untuk membangun dan meraih masa depan. Saat ini, lokasi lahir dapat di mana saja, namun lokasi mimpi harus terdapat di langit yang paling tinggi.

Di akhir sambutannya, Gubernur DKI Jakarta menegaskan bahwa PGRI diharapkan dapat menangani dan membantu kesenjangan pendidikan antara daerah maju dan tertinggal. Jangan pernah menganggap hasil pendidikan di Indonesia rendah, karena para pemimpin nasional kita saat ini merupakan hasil pendidikan dalam negeri. (Catur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here