Home Berita Terkini PGRI dan Peristiwa Kampar

PGRI dan Peristiwa Kampar

74
0
Ayah Didi

Oleh: Didi Suprijadi, Ketua PB.PGRI

Ada tiga kelompok di masyarakat yang jangan sekali-kali diganggu, apalagi dilecehkan. Tiga kelompok itu, yaitu TNI, Ulama, dan Guru. Kenapa? Karena ketiga kelompok itu mempunyai kedudukan yang terhormat serta mempunyai anggota yang sangat kuat membela korpsnya. Salah satu peristiwa yang dianggap pelecehan terhadap guru pernah terjadi puluhan tahun silam di Kabupaten Kampar.

Karena kejadian pelecehan tersebut, kegiatan belajar dan mengajar di sekolah-sekolah di Kabupaten Kampar mulai taman kanak-kanak hingga sekolah lanjutan tingkat atas, lumpuh total. Para guru dan pegawai menyatakan akan mengadakan aksi mogok hingga satu Minggu. Mereka mendesak Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno segera mengeluarkan surat pemberhentian Jefri Noer, Bupati Kampar, sebelum Pemilihan Umum legislatif 5 April 2004 lalu.

Kejadian ini bermula dari perang mulut antara Kepala Sekolah Menengah Umum II Air Tiris A. Lutfi saat membahas kemajuan pendidikan di Kampar, 5 Februari 2004. Saat itu, Jefri yang tengah menjawab pertanyaan Lutfi berasa dilecehkan. “Dia malah mengobrol kiri-kanan,” kata Jefri. Melihat sikap tersebut, Jefri meminta yang bersangkutan untuk diam. Tapi, teguran tersebut malah tak digubris. Dengan sedikit emosi, Jefri meminta Lutfi untuk keluar ruangan rapat jika tak mau mendengarkannya. Akhirnya, Lutfi tak jadi keluar dan malah mengikuti rapat hingga selesai. Sikap kepala sekolah seperti ini di anggap oleh Bupati bahwa kepala sekolah tersebut melakukan pembangkangan. Lain halnya dengan anggapan kepala sekolah, bahwa pengusiran itu dianggap sebagai pelecehan.

Kasus pelecehan Guru Kepala SMA ll Air Tiris Kampar yang dilakukan oleh Bupatinya tidak hanya berhenti di situ, tetapi Kepala sekolah Abdul Latif Hasyim dimutasi dari sekolah favorit ke sekolah pinggiran nan jauh dari rumahnya. Salah satu alasan pemindahan ini karena Abdul Latif Hasyim dituduh sebagai seorang teroris. Pemutasian kepala sekolah ini mengundang simpati dari siswa, guru, dan masyarakat umum yang memicu terjadi pemogokan massal.

Abdul Latif ini tidak terima dimutasi dari sebuah sekolah di Kampar. Dia menyebut, pemindahan kepala sekolah dan guru di Kampar ada unsur pribadi .”Saya disebut teroris, dilaporkan empat setengah halaman ke Presiden. Saya akan tuntut itu, kapan saya jadi teroris? Saya yang jadi korban. Rumah saya kena bom, mobil saya kena tembak, saya kena tabrak tengah malam,” kata Latif dalam satu kesempatan, seperti yang dituturkan kepada Liputan 6 com.

Bupati Kampar, Jefri Noer dituntut mundur melalui demonstrasi besar-besaran oleh ribuan pelajar dan guru selama dua minggu karena dianggap menghina profesi guru. Demonstrasi yang dilakukan oleh guru dan pelajar dari seluruh jenjang ini berlangsung dari tanggal 11 sampai dengan 21 Februari 2004, mengakibatkan proses belajar bengajar terhenti selama dua minggu. Mogok belajar baru dihentikan setelah ada keputusan dari DPRD Kabupaten Kampar yang memutuskan memberhentikan Jefri Noer dari jabatan Bupati Kampar.

Tuntutan kalangan pendidikan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, agar Bupati Jefri Noer dicopot akhirnya terkabul. Sidang paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Kampar, Sabtu (21/2), memutuskan memberhentikan Jefri Noer dan wakilnya, H.A. Zakir, dari seharusnya menjabat hingga 2006. Keputusan itu dibacakan langsung oleh Ketua Dewan Syaifuddin yang menjadi pimpinan sidang setelah mendengar pandangan fraksi-fraksi. “Hasil kesepakatan memutuskan untuk menetapkan pemberhentian bupati dan wakil bupati dari jabatannya,” ucap Syaifuddin dalam sidang yang tidak dihadiri 11 dari 45 anggota dewan itu.

Keputusan itu disambut hangat oleh para undangan dari berbagai kalangan yang menghadiri sidang paripurna. Puji syukur menggema di ruang sidang. Sebagian guru, termasuk Abdul Latief Hasyim–Kepala Sekolah SMUN 2 Air Tiris yang diusir oleh Jefri dalam suatu pertemuan–tampak menitikkan air mata. “Saya lega dan puas dengan keputusan DPRD Kampar. Saya rasa kebahagiaan juga dirasakan seluruh masyarakat Kampar,” kata Latief dengan nada tenang, meski raut wajahnya terlihat lelah. Suasana gembira juga terlihat di gedung Mahligai Bangsa Bangkinang, Dewan Pendidikan Kampar, dan bundaran Balai Bupati Kampar. Para guru, murid, mahasiswa, para ulama, dan ninik-mamak menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sidang paripurna ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Selanjutnya ketua dewan berkomentar “Keputusan DPRD Kampar juga sudah ada dan sejak kasus ini mencuat Jefri Noer tidak aktif lagi, sewajarnya gubernur menempatkan segera pejabat Bupati Kampar untuk memulihkan kinerja aparat pemerintah di daerah ini,” kata Syaifuddin. Ketua DPRD Kampar itu juga meminta agar mulai Selasa (24/2), aktivitas di pemerintahan dan proses belajar-mengajar sekolah di Kabupaten Kampar diaktifkan kembali. “Aspirasi masyarakat sudah ditampung DPRD Kampar. Sudah sewajarnya semua masyarakat, khususnya para guru dan murid, kembali mengajar dan belajar seperti semula,” ujarnya.

Setelah peristiwa ini, maka ada pameo di antara guru saat itu, bila ada persoalan menimpa guru dan bermasalah dengan birokrat maka ada istilah yang sering di sebut dengan akan mau DIKAMPARKAN. Kampar adalah salah satu kabupaten di Kepulauan Riau.

Bersama ini dilampirkan SK PB PGRI,tentang peristiwa Kampar.

KEPUTUSAN KONFERENSI PUSAT I PGRI MASA BAKTI XIX TAHUN 2003 – 2004
Nomor : VII/KEP/KONPUS/XIX/2004
Tentang PERNYATAAN KONFERENSI PUSAT I PGRI KHUSUS PERISTIWA KAMPAR PROVINSI RIAU

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Konferensi Pusat I PGRI Masa Bakti XIX yang diselenggarakan tanggal 29 Pebruari 2004 sampai dengan 2 Maret 2004 di Jakarta dihadiri oleh 30 Pengurus PGRI Provinsi dari seluruh Indonesia. Setelah mendengar, memperhatikan dan mengkaji aspirasi yang berkembang dalam pleno Konpus maupun komisi, dengan dilandasi oleh jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan serta visi dan misi PGRI dengan ini menyampaikan PERNYATAAN sebagai berikut;

Pertama, peristiwa demonstrasi dan mogok mengajar yang dilakukan oleh para guru Kabupaten Kampar Provinsi Riau pada tanggal, 11 s/d 21 Februari 2004 adalah bentuk perlawanan terhadap sikap arogansi, kesewenang-wenangan dan kedzaliman Saudara Jefry Noer sebagai Bupati Kampar.

Kedua, peristiwa demonstrasi dan mogok mengajar tersebut merupakan cermin kekecewaan para guru terhadap perilaku Saudara Jefry Noer Bupati Kampar sehingga menimbulkan ketidakpercayaan para guru yang berkembang menjadi krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan Saudara Jefry Noer sebagai Bupati Kampar.

Ketiga, guru-guru di seluruh Indonesia secara bulat mendukung sikap guru-guru Kabupaten Kampar Provinsi Riau.

Keempat, Konferensi Pusat PGRI atas nama guru seluruh Indonesia mendesak Presiden Republik Indonesia melalui Menteri Dalam Negeri merespon aspirasi para guru Kabupaten Kampar agar memberhentikan Saudara Jefry Noer dari Jabatan Bupati Kampar.

Demikian pernyataan sikap Pengurus Besar PGRI menanggapi aksi mogok guru guru di Kabupaten Kampar Provinsi Riau yang ditandatangani oleh ketua umum dan sekjen Pengurus Besar PGRI.
Jakarta, 2 Maret 2004

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here