Home Berita Terkini Mengenang Ibu Hj. Ani Yudhoyono dan Perjuangannya Terhadap Guru Honorer

Mengenang Ibu Hj. Ani Yudhoyono dan Perjuangannya Terhadap Guru Honorer

163
0

Oleh: Didi Suprijadi (Ketua PB.PGRI/Ketua MN KSPI)

Ibu Ani Yudhoyono telah pergi menghadap Sang Pencipta pada Sabtu 1 Juni 2019, setelah kurang lebih empat bulan lamanya bertarung melawan kanker darah.
Nama Lengkap: Hj. Kristiani Herrawati atau lebih dikenal dengan nama Ani Yudhoyono, lahir di Yogyakarta, 6 Juli 1952 dari pasangan orang Tua: Sarwo Edhie Wibowo (ayah), Hj. Sri Sunarti Hadiyah (ibu). Ani Yudhoyono yang dikenal sebagai Istri Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), menghembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 11.50 waktu setempat di National University Hospital (NUH), Singapura.

Semasa menjadi Ibu Negara mendampingi SBY memimpin Indonesia, ibu Ani telah memberikan sumbangsih pemikiran besar kepada masyarakat Indonesia terutama di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, hingga ekonomi. Ani Bambang Yudhoyono secara konsisten melakukan berbagai terobosan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan hidup melalui program-program Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) dengan lima pilarnya, yakni Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif, dan Indonesia Peduli.

Dimulai dari Program Indonesia Pintar, program ini merupakan dukungan Ani untuk memberikan akses layanan pendidikan bermutu di lingkungan kurang beruntung dan terpencil. Program ini diwujudkan dalam bentuk rumah pintar, mobil pintar, kapal pintar, dan pendidikan pemberdayaan ekonomi perempuan. Seluruh inovasi layanan pendidikan tersebut diintegrasikan dengan pemberdayaan ekonomi dan pelestarian lingkungan.

Sosok Ibu Negara yang tidak asing bagi guru dan dunia pendidikan, terutama bagi guru bantu dan guru honorer. Ani Yudhoyono mempunyai andil besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan guru bantu dan guru honorer. Begitu sibuk dengan segala kegiatan kemanusiaan, kenegaraan, dan keluarga, ibu Ani masih sempat membuka pengaduan bagi guru guru melalui pesan pendek (SMS). Hal ini diungkapkan sendiri oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono saat memberikan pidato pembukaan Kongres Guru Indonesia dan Kongres PGRI masa bakti XXl, 1-5 Juli 2013 di Jakarta.

Presiden dalam sambutan pembukaan kongres yang juga dihadiri para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, di bagian akhir pidatonya menceritakan tentang keluhan guru bantu dan guru honorer kepada Ibu Ani melalui ribuan pesan singkat (SMS). inilah kutipan pidato Presiden: “Nah, yang terakhir khusus persoalan guru bantu dan guru honorer”, begitu Presiden bercerita di di hadapan para guru peserta Kongres Guru Indonesia, 3 Juli 2013 di Istana Olahraga Senayan. “Ibu Ani menerima pengaduan sejak tahun 2004, ada ribuan pengaduan masalah guru bantu dan guru honorer melalui SMS . Macam-macam bahasa di lontarkan para guru honorer melalui SMS yang ditujukan kepada ibu Ani, ada yang setengah marah, ada yang marah, ada juga yang marah sekali, tetapi ketika banyak guru bantu dan guru honorer diangkat menjadi PNS lupa mengucapkan terima kasih, meskipun ada juga yang berterima kasih, tapi tidak apa apa, tidak apa apa”. Begitu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menceritakan pengalaman istrinya.
“Artinya kita juga memikirkan. Saudara-saudara masih ingat di tahun 2005 ketika saya pimpin waktu itu melihat berapa banyak guru honorer dan guru bantu yang belum diangkat menjadi PNS. Kemudian kita keluarkan kebijakan sekian juta lebih untuk kita angkat dan mengalir.
Tetapi sekarang ada masalah mengapa?” Kata presiden dalam lanjutan pidatonya.
“Karena daerah-daerah dalam mengangkat entah pegawai, entah guru honorer ataupun guru bantu itu tidak dihitung secara cermat. Oleh karena itu, saya sudah mengambil keputusan, mari kita cari solusinya, mari kita tata bagaimana proses pengangkatannya dengan syarat seperti apa dan kemudian dibikin aturan”, lanjut presiden dalam pidatonya. “Saya ingin tahun depan sudah dimulai, dengan demikian Insya Allah pada saatnya nanti tidak ada masalah-masalah seperti ini lagi. Saya hari ini menghadirkan Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, Menpan RB, Mensesneg untuk bersama-sama mengundang para gubernur seluruh Indonesia duduk bersama carikan solusi, tetapkan kebijakan untuk mengatasi masalah ini sehingga tidak menimbulkan gelombang keresahan di kalangan guru bantu dan guru honorer maupun PNS yang belum diangkat. PGRI juga harus aktif untuk menjadi bagian dari mencari solusi ini.”
Demikian cerita tentang peran Ibu Ani dan masalah guru honorer serta penyelesaiannya yang disampaikan Bapak Presiden SBY dalam pidatonya.

Selamat jalan Ibu Ani, Ibu Negara. Ibu Kristiani Herawati jasamu terhadap jutaan guru honorer yang diangkat menjadi PNS tak akan terlupakan. Surga menantimu di alam sana. Semoga. Salam dari kami mewakili guru honorer dan guru bantu, untuk Bapak Presiden Republik Indonesia periode 2004-2014, H. Soesilo Bambang Yudhoyono.

Jakarta, 2 Juni 2019
Rumah perjuangan Ayah Didi
Jakarta Timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here