Home Berita Terkini Berakhirnya Kehebohan di PGRI (Jelang Pemilu Serentak, 17 April 2019)

Berakhirnya Kehebohan di PGRI (Jelang Pemilu Serentak, 17 April 2019)

440
0
Foto : Didi S.
Sumber foto: Didi Suprijadi

Oleh: Didi Suprijadi

Sabtu, 13 April 2019, pukul 00.00 berakhirlah massa kampanye pemilu dan pilpres serentak tahun 2019. Pemilu tahun 2019 merupakan pemilu yang paling ramai sepanjang sejarah pelaksanaan pemilu di Indonesia. Pemilu tahun 2019 merupakan pemilu pertama kali yang melakukan pemilihan serentak antara legislatif dengan Presiden. Pemilihan serentak inilah yang membuat ramai tetapi juga ribet. Ramainya pembicaraan di masyarakat baik secara langsung maupun melalui media sosial, ada pro dan kontra, ada yang dukung ada yang tidak mendukung, tetapi tidak sedikit juga yang acuh.

Keramaian dan pro kontra dalam pilpres dan pemilu legislatif ini bukan hanya melanda masyarakat umum, tetapi melanda juga komunitas-komunitas di masyarakat. Tidak terkecuali komunitas guru yang tergabung dalam organisasi profesi PGRI pun dilanda kehebohan menghadapinya. Kehebohan dan keramaian bisa dilihat dari komentar dan pembicaraan dari para anggota. Ada yang komentar langsung melalui forum-forum organisasi seperti pertemuan dan rapat, ada juga yang melalui media sosial baik FB,IG maupun Whatsapp. Salah satu penyebab kehebohan adalah karena adanya beberapa anggota atau pengurus yang menjadi peserta pemilu baik di DPR RI, DPRD maupun DPD RI. Dalam grup grup Whatsapp tidak jarang admin pengelola membuat grup-grup baru hanya karena berbedanya pilihan. Tidak jarang anggota grup Whatshap dikeluarkan dari grup oleh admin hanya karena ada permintaan pemimpin organisasi yang kebetulan beda pilihan.

Akhirnya semua kehebohan itu berakhir, setelah berakhirnya masa kampanye pemilu serentak, dan akan lebih damai lagi setelah berlangsungnya pemilu serentak tanggal 17 April 2019.

Selayaknya masyarakat pada umumnya, seharusnya Guru sebagai anggota PGRI yang terdidik dalam melakukan pembicaraan melalui whatsapp, akan lebih sopan dalam mengemukakan komentar dan lebih rasional mengutarakan sesuatu yang dibicarakan. Perlu diketahui bahwa dalam organisasi PGRI anggotanya terdiri dari guru swasta, pensiunan, dan guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Komentar mengenai pasangan calon presiden antara masyarakat umum tentu berbeda dengan komentar seorang anggota PGRI, apalagi yang bersangkutan merangkap juga sebagai ASN.

Dari pengamatan langsung maupun melalui media sosial selama masa kampanye pemilu serentak ini, anggota PGRI dapat digolongkan berdasarkan tiga kriteria ASN, bukan ASN, dan anggota peserta pemilu, yaitu: Pertama kelompok anggota atau pengurus PGRI, status nonASN bukan peserta pemilu. Kedua kelompok anggota atau pengurus PGRI, status anggauta ASN bukan peserta pemilu, dan Ketiga anggota atau pengurus PGRI bukan anggota ASN tetapi menjadi peserta pemilu.

Kelompok pertama, anggota PGRI nonASN bukan peserta pemilu adalah kelompok yang mempunyai kebebasan dalam berkomentar dan mendukung pasangan calon presiden maupun calon legislatif pemilu serentak. Secara organisatoris PGRI maupun peraturan perundangan pelaksanaan pemilu, kelompok ini mempunyai kebebasan. Kebebasan merupakan hak azasi yang utama dalam negara demokrasi, jadi tidak boleh ada pengurus PGRI yang menghalangi apalagi mengancam-ancam untuk menyamakan pilihannya. Apalagi mengarahkan pada pasangan calon presiden tertentu.

Kelompok kedua, adalah anggota atau pengurus PGRI berstatus ASN bukan peserta pemilu, kelompok ini mempunyai kebebasan terbatas, tidak boleh mendukung paslon presiden maupun caleg. Sekalipun komentar, tidak boleh mengarahkan dukungan kepada salah satu paslon. Kenapa hal ini terjadi, karena kelompok ini secara peraturan perundangan pemilu, bahwa ASN wajib bersifat netral. Secara organisatoris PGRI bersifat netral, kalaupun mendukung calon tertentu, maka harus diputuskan melalui keputusan organisasi sesuai dengan SK PB PGRI nomor 106 tahun 2010. Fakta di lapangan, banyak kelompok ini seakan seperti menjadi tim sukses paslon tertentu. Sering ucapan dan tindakan berbeda, tidak jarang ajang pertemuan-pertemuan anggota diselipkan pesan-pesan yang mengarah kepada pasangan tertentu. Sebagai anggota dan pengurus PGRI sekaligus menyandang status ASN semestinya lebih berhati-hati untuk memberi dukungan dan komentar terkait pemilu serentak ini. Menang kalah, keberhasilan itu sudah ditakdirkan Allah, hanya saja menyandang status ASN dan pengurus PGRI perlu pertimbangan yang seksama. Apalagi sebagai pengurus di organisasi sebesar PGRI ini, mengambil sikap yang keliru akan berakibat fatal di kemudian hari.

Kelompok ketiga adalah anggota atau pengurus PGRI bukan ASN menjadi peserta pemilu. Kelompok ini mempunya kebebasan untuk mendukung atau berkomentar terhadap paslon tertentu. Dasar hukum kelompok ini menjadi peserta pemilu sebagai calon DPR RI, DPR D maupun DPD RI adalah SK PB PGRI nomor 106 tahun 2010 dan keputusan Rakornas lll di Ambon tentang pengunduran pelaksanaan kongres. Kelompok ini secara organisatoris maupun peraturan perundangan pemilu diperkenankan untuk mendukung dan berkomentar terhadap paslon presiden maupun caon legislatif. Kelompok ini di PGRI tidak sebanyak kelompok pertama dan kedua. Karena itu, kelompok ini seringkali mendapat sindiran dan nyinyiran dari kelompok lainnya. Saking karena ketidak tahuan dalam aturan organisasi, ada segelintir kelompok yang menginginkan kelompok ketiga ini dikeluarkan dari keanggotaan dan kepengurusan PGRI.

Kelompok ketiga ini bebas melakukan dukungan maupun komentar terkait pemilu karena secara organisatoris ada payung hukumnya yaitu SK PB PGRI nomor 106 tahun 2010 dan perundangan pemilu. Kelompok inilah sebetulnya kelompok yang patuh dengan organisasi dan perundangan pemilu. Kelompok ketiga inilah yang secara konsekuen, konsisten memperjuangkan anggota melalui jalur parlemen. Sudah dipastikan apa yang akan diperjuangkan oleh kelompok ketiga ini semuanya bukan atas kepentingan pribadi maupun golongan, akan tetapi yang diperjuangkan adalah guru dan organisasi PGRI. Kelompok ini maju sebagai caleg peserta pemilu atas kesadaran sendiri, atas biaya sendiri dan atas resiko ditanggung sendiri, tetapi apabila berhasil akan bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, dan organisasi PGRI. Kelompok ini hanya ingin melanjutkan perjuangan maestro pemimpin PGRI yaitu (Alm.) Moh Surya dan (Alm.) Sulistiyo.

Massa kampanye sudah berakhir, pemilu serentak akan dilaksanakan tanggal 17 April 2019, semoga pemilu menjadikan Indonesia menang yang adil dan makmur, pemilu jujur adil dan terbuka, sejuk dan damai. Harapannya ketiga kelompok yang selama ini heboh menghadapi pemilu akan damai dan sejuk seperti damai dan sejuknya pemilu. Tidak ada lagi yang saling menyalahkan hanya karena berbedanya pilihan, tidak lagi saling menghujat karena tidak samanya pilihan dan tidak lagi mengancam pemecatan hanya karena dianggap melanggar ketentuan. Semoga dengan berakhirnya pemilu serentak ini, berakhir pula kehebohan di organisasi PGRI. Semoga.

Didi Suprijadi
Ketua PB PGRI/ Ketua MN KSPI
Caleg DPR RI partai Gerindra no 4
Dapil DKI l jakarta timur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here