Home Berita Terkini Pesona Candi Cangkuang di Garut, Jawa Barat

Pesona Candi Cangkuang di Garut, Jawa Barat

244
0
Candi Cangkuang, Garut_foto by Catur
Candi Cangkuang, Garut_foto by Catur

Mendengar kata Garut, biasanya ingatan kita langsung menuju ke dodol atau domba. Ya, memang Garut identik dengan makanan khas dodol dan ternak dombanya yang sudah lebih dulu dikenal banyak orang. Tetapi, sejatinya Garut menyimpan banyak potensi untuk dikenal orang karena daerah wisatanya yang menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Sebut saja daerah tujuan wisata; Kawah Kamojang, Darajat Pass, Candi Cangkuang yang tersebar di sekeliling Garut. Untuk menuju ke daerah ini, relatif mudah. Garut terletak tidak terlampau jauh dari Bandung – ibukota Jawa Barat. Perjalanan darat menuju Garut dari Bandung ditempuh hanya kurang lebih satu jam, memiliki jalur transportasi yang mudah dilalui dengan pemandangan alam yang indah di sepanjang perjalanan. Salah satu destinasi wisata yang menarik dan ramai dikunjungi para wisatawan adalah Candi Cangkuang yang terletak di Garut.

Perjalanan dari pusat kota Garut menuju candi ini melewati jalan yang ukurannya terlalu sempit untuk dilalui dua mobil. Pemerintah daerah nampaknya perlu memperhatikan sarana jalan menuju tempat wisata agar memudahkan dan lebih menarik para wisatawan berkunjung. Candi Cangkuang terletak di pulau kecil (Pulau Panjang) dalam areal kampung adat Pulo. Lokasi candi berjarak sekitar 200 meter dari tempat parkir dan para wisatawan harus menaiki rakit bambu mengarungi Situ Cangkuang selama +/- 5 menit dengan biaya cukup terjangkau. Tiba di areal candi, para pengunjung dibawa melewati kampung adat pulo yang dibangun Embah Dalem Arief Muhammad seorang penyebar agama Islam yang bermukim di daerah Cangkuang Garut, ratusan tahun silam. Kampung adat Pulo hanya terdiri dari enam rumah dan sebuah masjid yang letaknya diatur berjajar arah utara-selatan. Rumah ketua adat ditandai dengan atap berupa ijuk dan rumah adat lainnya beratapkan genteng tanah liat. Kampung adat ini nampak hening, dan bersih. Kebersihan begitu terjaga di lingkungan kampung adat ini membuat para pengunjung merasa nyaman.

Candi Cangkuang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan pada awal ditemukannya sudah hancur dan batu-batunya berserakan Bahkan batu-batunya banyak digunakan masyarakat setempat sebagai batu nisan. Yang tersisa hanya berupa pondasi dan menjadi dasar untuk melakukan rekonstruksi kembali. Candi ini selama dua tahun (1974-1976) mengalami pemugaran kembali dengan berupaya mengumpulkan batuan yang berserakan. Selama proses pemugaran berhasil terkumpul sekitar 40% batuan penyusun badan candi seperti terlihat sekarang. Pemeliharaan candi Cangkuang berada di bawah pengawasan balai arkeologi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Keberadaan situs sejarah ini perlu terus dijaga kelestariannya karena sangat penting sebagai produk perjalanan sejarah suatu bangsa. Selain sebagai tempat wisata sejarah, keberadaan Candi Cangkuang merupakan bukti fakta sejarah tentang masuknya Agama Hindu di nusantara berabad-abad silam, selain menunjukkan luhurnya budaya bangsa Indonesia. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya bangsanya sendiri?

Di atas bus Red White Star, Garut 13 Desember 2017

reportase oleh: Catur Nurrochman Oktavian

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here