Home Berita Terkini Tontonan Nirpesan ‘Setan’ Meraup Rupiah

Tontonan Nirpesan ‘Setan’ Meraup Rupiah

64
0

Hantu, setan, iblis dan sejenisnya masih dipercaya sebagian besar masyarakat Indonesia walaupun bertolak belakang dengan ilmu sains modern. Eksistensi mahkhluk gaib itu dipercaya karena adanya cerita dari orang lain atau dari orang tua sehingga menjadi mitos turun-temurun. Beda daerah beda pula jenis hantunya. Kebudayaan dan cerita rakyat berpengaruh untuk mendeskripsikan hantu tersebut.

Cerita berbasis hantu pun menjadi salah satu folklor nusantara yang terwarisi dalam ranah kearifan lokal. Ini mendorong lahirnya sastra mistis yang ditulis dalam berbagai versi budaya. Jelas pula seriring perkembangan literasi dan kemajuan industri media cetak dan elektronik mendorong adanya pertukaran cerita hantu dari berbagai daerah.

Keniscayaan ini berbuah manis bagi dunia hiburan. Tak aneh bila cerita hantu ini pun menjadi salah satu ajimat bagi para penulis dan kreator seni untuk menjualnya dalam berbagai produk. Sebut saja, industri film nasional  mengalami ‘hujan duit’ ketika masyarakat menyambut sejumlah film setan di layar lebar sinema.

Sejarah film setan nasional memang sangat unik. Film bernuansa seram yang paling pertama di Indonesia berjudul Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934). Kisah ini menjadi film kedua di Indonesia setelah film pertama Indonesia yakni Loetoeng Kasaroeng (1926). Sutradara film ini adalah Then Teng Chun. Ia memproduksi film ini bersama Cino Motion Pictures. Film ini berkisah tentang dua siluman yang ingin menjadi manusia.

Perkembangan film horor melejit begitu pesat setelah adanya film Terang Boelan produksi Nederlandsch Indie Film Syndicaat dan disutradarai oleh Albert Balink sukses di pasaran. Saat itu, mereka memakai pemain-pemain sandiwara untuk filmnya. Rentang 1940 sampai 1941, perusahaan Then Teng Chun yakni Java Industrial Film, berhasil memproduksi 15 film. Salah satunya berjudul Tengkorak Hidoep (1941) karya Tjoe Hock. Film ini sangat laku di pasaran. Selain karena efek petir dan tengkorak begerak, kisahnya juga menarik, yakni tentang perjalanan seorang pendekar ke pulau angker.

Dalam perkembangannya film horor sempat meredup dan bersinar kembali pada tahun 1971. Ditandai oleh rilisnya film Lisa karya M Syariefudin dan Beranak Dalam Kubur karya Awaludin dan Ali Shahab. Dari film Beranak Dalam Kubur, legenda perfilman horor Indonesia, Suzanna memulai debutnya. Keuntungan besar-besaran berhasil diraih oleh film Beranak dalam Kubur yang menghasilkan Rp72 juta selama penayangan filmnya. Setelah itu, tak tanggung-tanggung, ada 22 judul film horor bermunculan pada 1972 sampai 1980.  Pada 1981 sampai 1991, dari setidaknya 84 judul film horor yang ada, 16 di antaranya dibintangi Suzanna.

Era 1970-1990-an, horor identik dengan seks, kekerasan, dan komedi. Berbagai adegan panas berani dilakoni Suzanna. Ditambah bang Bokir yang menjadi bumbu lucu di dalamnya, film-film seperti Sundel Bolong (1981),Nyi Blorong (1982),Malam Jumat Kliwon (1986),Ratu Buaya Putih (1988) dan Wanita Harimau (1989) sukses di pasaran. Masuk tahun 2000, acara-acara horor pun bermunculan di televisi dan booming, seperti Pemburu Hantu, Uka-Uka dan Dunia Lain. Saat pertelevisian mulai menguasai dunia horor, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani mengambil sudut yang berbeda. Mereka berdua justru memproduksi film horor dengan judul Jelangkung (2001). Film ini berhasil mendatangkan 1,5 juta penonton di seluruh Indonesia. Film horor ini berhasil menyaingi kesuksesan Petualangan Sherina (2000) karya Riri Riza.

Bumbu seks dan komedi pun semakin menggila. Artis film porno luar negeri diajak juga sebagai pemeran film-filmnya horor Indonesia. Seperti Rin Sakuragi di film Suster Keramas (2009),Maria Ozawa dalam Hantu Tanah Kusir (2010),Sora Aoi dalam Suster Keramas 2 (2011),Tera Patrick di Rintihan Kuntilanak Perawan (2010),dan Sasha Grey dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011).

Di sisi lain, film-film horor yang menampilkan tempat-tempat seram tertentu juga bermunculan. Beberapa tempat wisata misteri pun diangkat dalam film, seperti dalam film Hantu Jeruk Purut (2006),Rumah Kentang (2012),Mall Klender (2014),ataupun Taman Langsat Mayestik (2014).

  1. Film Horor Naik Kelas.

Romansa film horor masa lalu mencoba diangkat kembali. Salah satunya adalah film tahun 1982 yang kembali dibuat oleh sutradara Joko Anwar, yakni Pengabdi Setan. Film Pengabdi Setan (1982) disutradarai oleh Sisworo Gautama Putra. Joko Anwar begitu berambisi sampai mengejar izin produksi ulang film ini selama 10 tahun lamanya. Usaha Joko Anwar pun tak sia-sia, terbukti 4,2 juta penonton mau menyaksikannya.

Bahkan belakangan, pada Senin (19/2/2018), Joko Anwar mengumumkan, Pengabdi Setan akan tayang di 42 negara, termasuk Belanda, Singapura, Thailand, Spanyol, dan Taiwan.  Keberhasilan Joko Anwar bukan tanpa alasan. Selain karena perkembangan teknologi yang semakin pesat untuk mewujudkan imajinasi, masyarakat juga rindu dan ingin tahu dengan film horor masa lalu. Selain Pengabdi Setan, juga ada Danur: I Can See Ghost pada 2017 yang juga sukses sebelumnya dengan 2,7 juta penonton selama penayangan dan masih banyak film horor lainnya. Pengabdi Setan dan Danur : I Can See Ghost menjadi salah satu bukti film horor Indonesia mulai membaik kualitasnya. Tidak menampilkan kesan seks sama sekali, horor tetap dapat dinikmati sebagai salah satu genre favorit penikmat film Indonesia.

Menurut catatan yang dihimpun Medcom.id dari Katalog Film Indonesia, film horor untuk paruh pertama 2018 memang meningkat secara kuantitatif dibanding paruh pertama 2017. Ada tujuh film horor gaib dirilis selama Januari-Juni 2017. Dua di antaranya, Danur dan Jailangkung, sukses di box office dengan capaian jumlah penonton lebih dari 2,5 juta orang. Sebanyak 18 film horor gaib dirilis pada semester kedua 2017. Kebanyakan dirilis pada bulan September, Oktober, dan November dengan empat sampai lima film setiap bulan.

Film-film ini termasuk The Doll 2 dan Mata Batin yang menembus rekor 1,2 juta penonton, serta Pengabdi Setan yang menembus rekor lima film domestik terlaris sepanjang masa dengan capaian 4,2 juta penonton. Sebanyak 16 film horor gaib dirilis pada semester pertama tahun ini, termasuk dua film Lebaran 2018 (Jailangkung 2 dan Kuntilanak) plus film Rasuk (28 Juni). Lima di antaranya, termasuk Nyungsangyang hanya ada di satu bioskop Bali, dirilis selama Maret 2018. Lainnya tersebar merata setiap bulan. Tentu ada beragam faktor di balik kenaikan tren genre horor tahun ini. Namun satu yang bisa diduga, genre horor kembali dilirik banyak produser dan sineas karena sebagian film terbukti mampu bersaing di box office 2017. (gunawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here