Home Berita Terkini Semua Dapat Menjadi Guru, Lalu Guru Jadi Apa?

Semua Dapat Menjadi Guru, Lalu Guru Jadi Apa?

446
0
Foto : Istimewa

Saat ini guru menjadi sebuah profesi. Bahkan dibuatkan Undang-Undang khusus (bersama dosen) untuk mengaturnya. Semua sarjana yang berlatar belakang disiplin apa pun dapat menjadi guru, asalkan mengikuti pendidikan profesi guru (PPG). Sarjana lulusan LPTK (dulu IKIP, FKIP, STKIP, dll) maupun nonLPTK memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi guru. Tidak ada diskriminasi. Asalkan sudah menempuh PPG, maka dapat menjalani profesi sebagai guru.

Berbeda dengan zaman dulu. Yang menjadi guru, maka sudah dapat dipastikan hanya lulusan LPTK bergelar S.Pd. (sarjana pendidikan). Sekarang di semua sekolah dapat ditemui guru yang bergelar SH, S.E., S.T. dan lain-lain. Mereka menjadi guru setelah menempuh PPG lebih kurang setahun di LPTK (kalau dulu mendapatkan akta IV). Mudah bukan menjadi guru? Setelah mendapatkan sertifikat mendidik, maka mereka otomatis berhak menjadi guru, dan bersaing di dunia kerja dengan sarjana pendidikan yang memang sejak awal kuliah di LPTK. Pertanyaan mendasarnya, benarkah guru ini sebuah profesi seperti berbagai bidang profesi lain? Jika ya, maka mengapa dokter, akuntan, pengacara, notaris tidak ada berlatar belakang sarjana lain selain lulusan fakultas kedokteran, ekonomi, dan hukum? Apakah sarjana disiplin lain dapat menjadi dokter hanya dengan mengikuti co-ass selama dua tahun? Apakah sarjana lain dapat menjadi akuntan setelah mengikuti pendidikan profesi akuntan? Atau apakah ada sarjana lain selain sarjana hukum dapat menjadi notaris setelah mengikuti pendidikan kenotariatan?

Pemikiran semua sarjana dapat menjadi guru setelah menjalani PPG selama setahun sebenarnya mengkerdilkan profesi guru itu sendiri. Akhirnya pemilihan seseorang menjalani profesi guru bukan lagi pilihan sejak awal. Tetapi cenderung karena tidak terserap di sektor lainnya, barulah menjadi guru. Semua dapat menjadi guru asalkan mampu menyampaikan/mengajarkan ilmunya. Pandangan ini tentu tidak selamanya salah dan juga tidak selalu benar. Karena tugas guru tidaklah semata-mata menyampaikan ilmu alias mengajar. Mendidik dan mengevaluasi juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari tugas pokok dan fungsi seorang guru. Apakah kompetensi keilmuan saja yang harus dimiliki guru? Tentu tidak, karena guru juga harus menguasai kompetensi lainnya seperti kompetensi pedagogik, kepribadian, dan kompetensi sosial.

Lalu bagaimana nasib lulusan LPTK yang sejak awal menjatuhkan pilihan menekuni bangku kuliah dengan harapan menjadi guru? Mereka harus bersaing dengan lulusan non-LPTK yang juga ingin menekuni profesi guru, tentunya setelah mendapatkan sertifikat pendidik. Bandingkan dengan akuntan atau pengacara. Tidak ada sarjana selain bidang ekonomi dan hukum yang dapat menekuni profesi tersebut. Jadi guru merupakan profesi yang terbuka diikuti siapa saja. Sementara itu keberadaan LPTK baik negeri dan swasta masih cukup banyak menyuplai calon tenaga guru di pasaran kerja yang tidak semuanya mampu terserap. Apalagi ditambah dengan lulusan non-LPTK yang ikut dalam bursa lapangan kerja sehingga makin menambah panjang antrian para calon guru terserap dalam lapangan kerja. Jika semuanya dapat menjadi guru, lalu guru menjadi apa? Jawaban leluconnya tentu guru menjadi banyak! (catur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here