Home Berita Terkini Sekolah Bukan Sekedar Mendapatkan Ijazah

Sekolah Bukan Sekedar Mendapatkan Ijazah

209
0
Foto : baranewsaceh.co

Sekolah merupakan sebuah lembaga yang sengaja dibuat untuk menopang pendidikan masyarakat secara formal dengan memiliki perancangan sebagai acuan dalam melakukan kegiatan belajar mengajar  sehingga memiliki tujuan yang sama yakni memajukan anak bangsa. Meskipun sekolah, bukan satu-satunya tempat mendapatkan pendidikan namun tak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan sebuah tempat yang teramat penting dalam mencerdasakan anak bangsa.

Sekolah hadir sebagai bentuk nyata dalam mewujudkan cita-cita bangsa untuk meneruskan kemerdekaan dan memajukan anak bangsa dengan cara wajib belajar. Sekolah adalah lembaga yang dirancang untuk pengajaran siswa di bawah pengawasan guru. Adapun jenjang pendidikan wajib di Indonesia yaitu SD, SMP, dan SMA. Sebagaimana telah dicanangkan oleh pemerintah bahwa wajib belajar adalah 12 tahun bagi anak bangsa.

Demi menghasilkan anak bangsa yang berkualitas guna memajukan negara tercinta, seharusnya bergaris lurus dengan kualitas sekolah. Semakin baik kualitas sekolah semakin besar kemungkingan mampu menghasilkan peserta didik dengan kualitas baik. Sekolah dengan kualitas baik haruslah didukung dari segala aspek, diantaranya yakni lingkungan, tenaga pendidik dan staff, peserta didik, sarana dan prasana.

Guru adalah pelaksana kegiatan inti sekolah yaitu proses pembelajaran yang akan menentukan kualitas lulusannya. Pustakawan adalah SDM/personil yang memberikan layanan sumber pembelajaran tekstual untuk mendukung kegiatan akademik/pembelajaran. Tenaga administrasi adalah kegiatan pendukung, agar kegiatan akademik/pembelajaran di sekolah, baik administrasi akademik maupun administrasi non akademik dapat berjalan dengan baik. Tenaga kebersihan sebagai personil/SDM sekolah yang mendukung agar suasana sekolah tetap asri dan proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Dan tenaga keamanan bertanggung jawab untuk menciptakan suasana sekolah agar tetap aman dan terkendali.

Kepuasan pelanggan internal sekolah pada dasarnya adalah jika mereka dapat bekerja atau menjalankan tugas dengan dukungan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai, mendapatkan kompensasi yang layak atas kinerja yang telah diberikan, baik dalam bentuk finansial, material maupun non material serta kesejahteraan secara luas. Sebagai wujud atau bukti adanya kepuasan pelanggan internal sekolah adalah para guru, tenaga admnistrasi, pustakawan, tenaga kebersihan dan kemanan menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, sesuai sistem, prosedur dan tata kerja yang telah ditentukan. Dengan adanya kepuasan pelanggan internal ini diharapkan mereka dapat memuwujudkan kepuasan terhadap pelanggan eksternal sekolah sehingga akan membawa dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan sekolah yang bersangkutan.

Mutu dalam pendidikan bukanlah merupakan barang akan tetapi merupakan layanan, di mana mutu harus dapat memenuhi kebutuhan, harapan dan keinginan semua pihak/ pemakai dengan fokus utamanya terletak pada peserta didik. Mutu pendidikan berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia.

Sejalan dengan hal tersebut, maka dalam pengelolaan sekolah yang efektif dan berorientasi pada mutu pendidikan memerlukan suatu komitmen yang penuh kesungguhan dalam peningkatan mutu, berjangka panjang dan membutuhkan penggunaan peralatan dan teknik-teknik tertentu. Komitmen tersebut harus didukung oleh dedikasi yang tinggi terhadap mutu melalui penyempurnaan proses yang berkelanjutan oleh semua pihak yang terlibat.

Ketika aspek-aspek dan indikator pengelolaan lembaga pendidikan dapat dijalankan dan diarahkan ke sebuah mutu yang tinggi. Maka keberhasilan dari pencapaian mutu tersebut harus merupakan integrasi dari semua keinginan dan partisipasi stakeholder (semua yang berkepentingan) dalam pencapaian hasil akhirnya. Sekolah harus kreatif dan dinamis dalam mengusahakan peningkatan mutu dengan peningkatan kemandirian sekaligus masih dalam kerangka acuan kebijakan pendidikan yang berlaku.

Berbicara mengenai sekolah tentu berhubungan dengan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembelajaran adalah merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pengertian pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran mensyaratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik.

Pembelajaran di Sekolah Dasar mempunyai karakteristik yang sangat berbeda  dengan pembelajaran di Sekolah Menengah. Hal ini disebabkan karena karakteristik siswa Sekolah Dasar berbeda dengan siswa sekolah menengah.  Secara  institusional  tujuan  pembelajaran di sekolah dasar lebih ke arah pengembangan potensi dasar para siswa, karena potensi dasar ini sangat diperlukan untuk belajar dan pembelajaran pada  tingkat  pendidikan  selanjutnya.

Apabila belajar dan pembelajaran di SD tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga potensi dasar tidak berkembang dikhawatirkan menjadi penghambat bagi perkembangan siswa selanjutnya, khususnya  dalam mengikuti program-program belajar dan  pembelajaran  di  sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Sekolah bukan hanya sekadar tempat mencari ijazah. Sekolah bukan hanya sekedar tempat mencari nilai. Sekolah adalah tempat untuk belajar. Belajar mengenai berbagai mata pelajaran, belajar mengenai kehidupan sosial, dan belajar mengenai hidup. Sekolah adalah tempat untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan baru.

Oleh karenanya, lingkungan sekolah sangat menunjang keberhasilan output. Seperti halnya, kebersihan sekolah yaitu apabila sekolah memiliki lingkungan yang nyaman, asri, dan bersih tentu kegiatan belajar mengajar tidak akan terganggu. Siswa lebih semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Kebersihan sekolah merupakan tanggungjawab bersama seluruh warga sekolah mulai dari penjaga sekolah, siswa, guru, maupun kepala sekolah. Seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab dalam upaya menjaga kelesetarian sekolah. Namun apabila keadaan banjir datang, tanggung jawab yang dapat dilakukan bersama ini menyita waktu KBM sehingga sangat tidak efektif dan efisien.

Rating suatu sekolah tidak hanya dilihat dari kualitas lulusannya. Bagaimana kondisi kebersihan lingkungan sekolah turut memengaruhi citra sekolah di mata masyarakat. Ada beberapa sekolah yang sudah menelurkan banyak prestasi bergengsi, namun hanya karena beberapa titik yang terlihat kumuh, minat calon peserta didik berkurang.

Kebersihan lingkugan sekolah juga turut mendukung prestasi siswa dan guru. Kondisi tempat belajar yang nyaman karena bersih akan memudahkan siswa menangkap pelajaran yang disampaikan guru. Hal ini berkaitan pula dengan mood hati yang naik.

 

Situasi menjadi tidak kondusif jika dirasa hujan akan menimbulkan banjir. Oleh karena itu, seringkali siswa diliburkan jika sekolah sudah banjir karena air masuk ke kelas yang menyebabkan tidak mungkin dilangsungkannya kegiatan belajar mengajar.

Di Indonesia, rendahnya mutu pendidikan merupakan salah satu dari empat masalah pokok pendidikan yang telah diidentifikasi sejak tahun 60-an. Perhatian terhadap pendidikan memang cukup besar, namun meskipun sudah banyak usaha yang dilakukan, sampai kini mutu pendidikan tampaknya belum dapat diatasi. Keluhan tentang rendahnya mutu lulusan masih terus bergema. Lulusan SD, SLTP, dan SLTA belum mampu bernalar dan berpikir kritis, serta masih tergantung kepada guru. Kemampuan siswa untuk mandiri belum terwujud, sehingga prakarsa siswa untuk mulai sesuatu tidak terlampau sering ditemukan. Penguasaan siswa lebih terfokus pada pengetahuan faktual karena itulah yang dituntut dalam ujian akhir. Pangkal penyebab dari semua ini tentu sangat banyak tetapi tudingan utama banyak ditujukan kepada guru karena gurulah yang merupakan ujung tombak di lapangan yang bertemu dengan siswa secara terprogram. Oleh karena itu, guru dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap hasil yang dicapai oleh siswa.

 

Komponen guru selama ini di anggap sangat mampu mempengaruhi proses pendidikan. Hal ini memang wajar, sebab guru merupakan ujung tombak yang berhubngan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagusnya dan idealnya kurikulum pendidikan, tanpa di imbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semua akan kurang bermakna.

Oleh karena itu, untuk mencapai standar proses pendidikan, sebaiknya harus di mulai dengan menganalisis komponen guru terlebih dahulu. Oleh sebab itu, sistem pendidikan memerlukan guru-guru yang professional, entah itu dalam sifatnya, perilakunya, bahkan kinerjanya.

kinerja guru akan bernilai baik apabila semua kegiatan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Sehingga apa bila seorang guru melaksanakan kegiatan administrasi mengajar dengan sesungguhnya dan sebaik mungkin maka kinerja guru akan semakin baik.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.

Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus untuk itu. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Dengan keahliannya itu seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profesinya

Guru sebagai perancang yaitu menjadi seorang administrator, berarti tugas guru ialah merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengawasi dan mengevaluasi program kegiatan dalam jangka pendek, menengah atau pun jangka panjang yang menjadi perioritas tujuan sekolah.

Untuk mendukung terpenuhinya kebutuhan utama sekolah, maka tugas perancang yaitu menyusun kegiatan akademik (kurikulum dan pembelajaran), menyusun kegiatan kesiswaan, menyusun kebutuhan sarana-prasarana dan mengestimasi sumber-sumber pembiayaan operasional sekolah, serta menjalin hubungan dengan orangtua, masyarakat, stakeholders dan instansi terkait.

Setiap  kegiatan tentunya membutuhkan sebuah perencanaan, baik buruknya sebuah kegiatan salah satunya dipengaruhi olah baik-buruknya sebuah perencaan. Tanpa sebuah perencanaan, sesungguhnya kita sudah merencanakan, yakni sebuah kehancuran. Oleh karena itu perencanaan harus dibuat sebaik mungkin dengan harapan pelaksanaan kegiatan dalam berjalan dengan baik.

Pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru di kelas adalah sebuah kegiatan besar, karena di dalamnya terjadi banyak proses yakni transfer ilmu pengetahuan dan bimbingan dengan tujuan yang sangat jelas yaitu perubahan pengetahuan, mental dan pola pikir anak, sehingga perencanaan dalam pembelajaran sangat diwajibkan. Anggi Cayanati, SMA negeri 22 Kota Bekasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here