Home Berita Terkini Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0

111
0

Oleh JEJEN MUSFAH

“Kita harus bisa membaca arah zaman,” kata Sri Mulyani pada acara Dialog Publik dan Halal Bihalal PB PGRI di Gedung Guru, Jakarta (10/07). Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mendikbud Muhadjir Effendy, Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Ali Gufron, Kapustekom Gogot Suharwoto, dan Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama PB PGRI, Kompas, dan Kemdikbud.

Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan pemanfaatan internet hampir di semua lini kehidupan. Era kemajuan teknologi, informas, dan komunikasi (TIK) mempermudah, mempercepat, dan menyederhanakan pekerjaan-pekerjaan yang dulu sulit dan memakan waktu. Pada satu sisi ia mengurangi pekerjaan-pekerjaan lama—manusia digantikan mesin, pada sisi lain ia melahirkan pekerjaan-pekerjaan baru—transportasi daring misalnya.

Wilma S. Longstreet dan Harold G. Shane dalam Curriculum for a New Millenium (1993: 185) menulis, kita harus bersedia dan mampu menghadapi masalah yang membingungkan, sering tak terpecahkan, dan tidak melupakan cita-cita dan aspirasi yang kita pegang untuk masa depan, termasuk mendapatkan kembali kendali atas teknologi.

Kondisi ini menuntut revolusi dunia pendidikan dalam segala aspeknya, terutama penguasaan TIK. Pendidikan Indonesia harus menyiapkan calon-calon ahli di bidang TIK. Di samping semua siswa di setiap jurusan harus melek TIK, penguatan SMK TIK, dan PT vokasi suatu keniscayaan. Dijelaskan Gogot, “Pendirian dan pengelolaan SMK lebih mahal daripada SMA”. Ironis, lulusan SMK lebih banyak menganggur daripada lulusan SMA. Menurut Ali Gufron, “Pembukaan Prodi harus sejalan dengan pembangunan”.

Ironisnya, guru TIK dihapuskan sejak penerapan K13, dengan asumsi ia harus digunakan oleh semua guru dalam praktik pembelajaran. Kalaupun ada, TIK sebagai kurikulum muatan lokal di sekolah. Status sergurnya mengambang. Pemerintah menegaskan pentingnya penguasaan teknologi tetapi tidak menjadikan TIK sebagai mata pelajaran di sekolah.

 

Sejak Usia Dini

Penguasaan TIK tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan SDM yang cerdas dan sehat. Anak yang mudah menerima pelajaran dengan baik dan cepat—tidak harus selalu jenius. Generasi unggul semacam ini harus disiapkan sedini mungkin, bahkan sejak anak dalam rahim ibu. Saat mengandung, seorang ibu perlu asupan gizi yang baik. Anak pada usia balita, PAUD, SMP, hingga SMA, memerlukan gizi yang baik agar otaknya tumbuh cerdas. Faktanya, 37 persen Indonesia kurang gizi. Sebaik apa pun gurunya kalau muridnya lemah akan sulit. Menurut Sri Mulyani, “Perbaikan gizi anak penting karena manusia adalah harta paling berharga di keluarga dan bangsa”.

 

Empat C

Pendidikan jangan hanya fokus pada hafalan dan buku teks, tetapi mengembangkan 4 (empat) C, yaitu critical thinking, creativity, communication, dan colaboration. Siswa di kelas dilatih memecahkan masalah-masalah kemanusiaan dari yang sederhana sampai yang rumit; dari problem di sekitarnya hingga problem masyarakat dunia; dari menggunakan peralatan sederhana hingga yang canggih. Budaya kritis ditumbuhkan sejak sekolah dasar dengan memancing siswa untuk menjawab: mengapa ini terjadi dan apa saja solusinya.

Budaya berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi yang baik akan melahirkan karya dan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan. Siswa ditantang untuk menjadi penemu bukan pengguna inovasi karya orang lain. Paradigma siswa diubah dari konsumen ke produsen. Hari ini boleh menjadi konsumen tetapi suatu saat harus melahirkan karya sendiri.

Murid kreatif dilahirkan oleh guru kreatif. Menurut Jusuf Kalla, “SDM handal merupakan kunci inovasi”. Guru adalah kunci inovasi pendidikan. Guru harus kompeten dan punya integritas. “Integritas adalah nilai yang tidak diperjualbelikan,” kata Sri Mulyani.

Kompetensi itu diperoleh melalui proses belajar tanpa henti sepanjang hayat melalui beragam sumber daya yang ada seminim apa pun. Sedangkan integritas merupakan sesuatu yang harus terus diperjuangkan tanpa kenal lelah dan pantang menyerah. Godaan untuk selalu melanggar norma agama dan sosial akan terus dialami manusia sepanjang hidupnya. Menurut Unifah Rosyidi, “Guru harus meningkatkan kompetensi agar bisa menyiapkan SDM yang siap menghadapi era disruptif saat ini”.

Gaji guru harus bagus karena prinsip profesionalisme, yang berarti tidak semua orang bisa jadi guru. Seseorang harus menempuh pendidikan dan latihan khusus untuk menjadi guru. Guru harus sejahtera karena tugas pentingnya bagi kemajuan bangsa. Menurut Jusuf Kalla, “kesejahteraan melahirkan pengajaran yang baik”. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here