Takbir idul Fitri kembali bergema seantero jagat raya. Hari raya umat muslim sedunia ini setiap tahunnya kembali hadir dan dirayakan penuh suka cita. Seluruh umat muslim sedunia bergembira. Tidak pada tempatnya bersedih pada hari raya ini. Setelah ditempa selama sebulan penuh berpuasa Ramadhan, umat Islam menggapai puncak kemenangan di hari nan fitri ini. Berpuasa sejak terbit fajar hingga tiba waktu berbuka ketika maghrib tiba memberikan sejuta makna penting bagi umat manusia. Malamnya pun diisi dengan ibadah shalat tarawih dan ibadah lainnya hingga waktu sahur tiba. Puncaknya zakat fitrah yang harus ditunaikan setiap insan untuk berbagi kebahagiaan kepada sesama. Silaturahmi pun menjadi perekat utama hingga berjuta juta orang pun rela berduyun duyun dengan berbagai daya upaya kembali ke kampung halaman demi berkumpul dengan sanak famili tercinta. Berbahagia rasanya apabila dapat melaksanakan shalat ied dilanjutkan dengan kumpul bersama keluarga.

Hari Raya idul Fitri ini bermakna tidak hanya untuk meningkatkan kesalehan pribadi. Tetapi juga berdimensi sosial yang sangat tinggi. Cobalah tengok setiap masjid ketika waktu berbuka tiba. Semua pasti menyediakan makanan meski sekadar makanan takjil  untuk berbuka puasa. Anda dijamin tidak akan sulit menemukan makanan saat berbuka tiba meski sedang dalam perjalanan. Bahkan tidak jarang di jalan-jalan pun hingga pintu tol bertebaran makanan takjil yang diberikan secara gratis. Setiap orang seakan berlomba menyediakan segala yang dia miliki untuk saling berbagi. Bahkan tidak jarang ada beberapa komunitas yang mengadakan sahur on the road untuk berbagi makanan sahur kepada yang membutuhkan. Berbagai instansi swasta, BUMN,dan pemerinfah yang mengadakan berbagai kegiatan pasar sembako murah, mudik gratis, dan santunan anak yatim bersamaan dengan buka puasa bersama merupakan bentuk kepedulian untuk saling berbagi sebagai bentuk kesalehan sosial. Ramadhan memang sangat istimewa!.

Ramadhan telah menempa kesalehan pribadi dan juga berdimensi kesalehan sosial. Saling berbagi, silaturahmi sebagai contoh perwujudannya. Zakat Fitrah sebagai pamungkas yang wajib ditunaikan setiap muslim sebagai bentuk kesalehan sosial agar tidak ada yang bersedih karena kelaparan di hari raya. Semua harus bergembira bahkan diharamkan berpuasa di hari raya idul fitri ini. Di hari itu seakan egoisme manusia runtuh. Sifat pelit dan kikir ditumbangkan oleh hantaman kepedulian untuk saling berbagi kepada sesama melalui zakat fitrah. Selain itu silaturahmi di suasana lebaran sebagai pengikis sifat individualistis manusia yang umumnya dominan menguasai hati. Berjuta-juta orang rela berduyun-duyun dengan mengerahkan segala daya upaya yang dimilikinya untuk sekadar dapat merasakan berlebaran di kampung halaman bersama sanak kerabat tercinta. Ratusan hingga ribuan kilometer jarak rela ditempuh para pemudik. Berdesakan di angkutan umum hingga bermacet ria belasan jam rela dijalankan demi satu tujuan yaitu pulang kembali ke rumah asal. Mudik menjadi rutinitas tahunan sebagai perwujudan silaturahmi merekatkan kebersamaan yang tidak dapat tergantikan atau dihitung dengan besaran rupiah sebesar apa pun.

Pemerintah di negara manapun apalagi yang memiliki jumlah penduduk muslim besar seperti Indonesia, patut merasa bersyukur dengan hadirnya Ramadhan dan hari raya idul fitri. Mengapa begitu? Karena perputaran ekonomi masyarakat sangat besar dengan datangnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Konsumsi masyarakat meningkat yang berimbas pada pergerakan ekonomi yang cukup besar di bulan ini. Banyaknya pedagang “dadakan” di sektor makanan, pakaian dan kebutuhan dasar lainnya merupakan contoh kongkrit adanya pergerakan ekonomi riil di masyarakat. Perputaran uang melalui pemberian Tunjangan Hari Raya baik oleh sektor swasta maupun pemerintah menggerakkan perekonomian bangsa ke arah positif karena mendorong daya beli masyarakat dalam memenuhi kebutuhan saat berhari raya. Perputaran uang yang terjadi dan mengalir ke daerah dibawa oleh para pemudik yang bersilaturahmi memberikan dampak positif juga bagi pergerakan ekonomi di daerah. Hal ini tentu sangat membantu pemerintah dalam menjalankan pembangunan di daerah sehingga tidak semua uang untuk pembangunan berpusat hanya di ibukota dan kota-kota besar lainnya. Tetapi juga mengalir ke daerah-daerah. Dan ini dapat terbantu oleh fenomena mudik yang berlangsung secara massal dan mudah diitemui hanya pada momen hari raya Idul Fitri. Oleh karena itu benar adanya bahwa Andai setiap bulan adalah bulan Ramadhan tentu makna positif yang dirasakan akan lebih besar lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here