Home Berita Terkini Dari Gunung Mas Mengusung Perubahan

Dari Gunung Mas Mengusung Perubahan

41
0
Foto : Feristiyawan

Oleh : Euis Karwati

Ketua PB PGRI

Kondisi PGRI saat ini sangat ideal dan mumpuni sebagai organisasi modern yang mengedepankan perubahan dan kepentingan seluruh anggotanya. Prinsip menegakkan PGRi yang sehat telah dibuktikan melalui pengabdian tulus guna mendapat keprcayaan masyarakat dalm mengusung perubahan. Iklim organisasi yang bersih, transparan, dan profesional harus terus dihembuskan melalui serangkaian bakti nyata dan sejumlah kegiatan produktif berbasis pencerahan visi-misi PGRI.

Ini menjadi salah satu alasan diadakannya Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurus dan Kepemimpinan PGRI di Kabupaten Gunung Mas, 16-20 Juli 2018 lalu. Orientasi kegiatan yang menjadi agenda utama ini tegas bertajuk penguatan pilar kukuh bagi upaya membangun PGRI sebagai serikat pekerja yang kuat, independen, demokratis dan sinambung (KIDS).

Hotel Zefanya di Jalan Letjen Suprapto, Kabupaten Gunung Mas pun menjadi wahana bagi peserta sebanyak 30 orang yang terdiri dari 22 laki-laki dan 8 perempuan yang berasal dari 12 kecamatan se-Kabupaten Gunung Mas. Pelatihan diakomodasi oleh 6 pengurus PĢRI dan panitia pelaksana. Hadir dalam pelatiham itu Ketua PB PGRI Dr. Euis Karwati, M.Pd., Ketus PGRI Kalteng Dr.Suryansyah Murhaini, S.H.MH, Ketua PGRI Gunung Mas Brikson, S.Pd., M.Pd., Kadisdikbud Kabupaten Gunung Mas Drs Moh Rusdi, EI-specialist Desri Yuniafitri Darwin dan Saf EI Aman. Sebagai Tim LO pada pelatihan ini adalah Drs. Dede Hidayat, M.Pd. (mentor), LO Dr. Abdul Kadir(NTB) & Jono, S.Pd dari Kalteng.

Sasaran pelatihan ini, yakni mendorong PGRI Gunung Mas dapat meningkatkan perannya sebagai organisasi yang dapat dirasakan kehadirannya sebagai organisasi yang independen dari kita oleh kita dan untuk kita yang dilandasi solidaritas pengurus dan anggotanya. Sasaran lebih jauh, yakni diharapkan PGRI Gunung Mas bisa menjadi salah satu penggerak bagi PGRI Kalteng dari mati suri untuk bisa hidup dan aktif kembali untuk menjadi organisasi maju.

Selain itu PGRI Kabupaten Gunung Mas dan kabupaten lainnya harus memiliki komitmen  untuk membina dan menyejahterakan anggotanya serta responsif terhadap perubahan dan harus terus belajar (long Life education) guna menyesuaikan dengan perubahan zaman  terutama menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang berdampak pada tugas dan tanggung jawab guru untk menjadi profesional dan melek IT yang akan menjadikan tugas guru dalam pembelajaran lebih menarik. Juga dalam pengelolaan organisasi akan lebih baik dan praktis untk dilaksanakan .

Kegiatan telah mengubah pola pikir pengurus PGRI Gunung Mas. Hal yang paling menarik yang bisa dijadikan rujukan memajukan dan menghidupkan PGRI, antara lain, PGRI merupakan organisasi pembelajar (learning organizing) karena secara konsisten terus mentransformasi dirinya mengelola pengetahuan, memanfaatkan teknologi, dan memberdayakan manusia untuk terus belajar sehingga mampu beradaptasi lebih baik terhadap perubahan lingkungan. Tak pelak,  semua pengurus dan anggotanya terus-menerus memperluas kapasitasnya untuk mengkreasi hasil yang mereka inginkan sehingga pola berpikir baru berkembang, tumbuh aspirasi kolektif dengan bebas dan anggotanya terus menerus belajar bagaimana belajar bersama.

Kebiasaan, nilai-nilai dan norma serta perilaku organisasi pembelajar seiring dengan  visi-misi PGRI. Visi yang jelas bukan merupakan visi pemimpinnya semata melainkan visi yang dibangun secara bersama (shared vision) seluruh anggota profesi. Dengan visi terfokus pada perjuangan organisasi profesi benar-benar ditujukan untuk mengangkat harkat dan martabat profesi guru sebagai anggotanya. Budaya belajar yakni adanya komunitas yang selalu belajar, memastikan anggotanya rnempunyai kesempatan untuk belajar, memfasilitasi kelompok untuk belajar, pada akhirnya akan memperbaiki eksistensi PGRI dengan cara keseluruhan.

Budaya egaliter PGRI dibentuk oleh para guru yang secara suka rela bergabung dan berkomitmen untuk memajukan, melindungi dan memperjuangkan hak-hak anggota profesi. Budaya egaliter dapat mewakili jenis organisasi ini dimana kesetaraan anggota dalam menyampaikan pikiran, gagasan atau ide-ide yang bertentangan sekalipun mendapatkan tempatnya. Organisasi PGRI bukan milik pimpinan dan pengurusnya, kepemimpinan yang dikembangkan adalah kepemimpinan kolegial dan kolektif yang lebih mengedepankan kepentingan kemajuan organisasi profesi dari pada kepentingan individu.

Budaya egaliter ini harus dibangun dengan baik karena struktur masyarakat yang paternalistik sering memosisikan pemimpin sebagai orang yang sulit dibantah. lklim keterbukaan dan demokrasi saat ini telah banyak membuka sekat mental anggota sehingga pada umumnya diberbagai daerah anggota sudah lebih berani mengkritisi kondisi internal organisasi dan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak menguntungkan.

Budaya akademik ciri khas PGRI dalam membangun budaya akademik yang egaliter karena basis profesi guru, dosen, dan tenaga kependidikan, yakni terus mendorong pengembangan pembelajaran dan keilmuan. Budaya akademik dimaksudkan agar penguasaan substansi teoritik terus di update sesuai dengan perkembangan keilmuan yang terjadi serta agar praktik profesional yang dimiliki sejalan dengan perkembangan teori dan kebutuhan masyarakat pengguna (peserta didik).

Dengan demikian, tradisi verbal mesti diubah dengan tradisi menulis dalam media komunikasi profesi sehingga pikiran, gagasan atau temuan dapat disebarkan pada para kolega dan masyarakat luas. Ini akan akan mendorong budaya yang mencintai ilmu pengetahuan dan kebenaran. Dunia pendidikan selalu membawa pesan moral pada perubahan yang diinginkan terhadap peserta didiknya karenanya mesti ditumbuhkan iklim persaingan sehat sekaligus menjaga martabat profesi pendidik.

Budaya melakukan kreasi dan inisiasi dalam tugas merupakan upaya peningkatan profesi pengurus dan anggotanya. PGRI terus mendorong dan memfasilitasi anggotanya untuk terus melakukan eksperimen, belajar dari pengalaman dan melakukan kerja kologial dan mengomunikasikan hasilnya pada anggota yang lain. Proses kreativitas seyogyanya ditumbuhkan melalui berbagai cara seperti proses problem solving, refleksi dan berpikir antara lain untuk mengkresikan model-model pembelajaran dan seterusnya.

Menyadari budaya yang dijadikan nilai, noma, sikap dan prilaku bukanlah suatu yang mudah dilaksanakan, maka yang diperlukan untuk membangun suatu budaya organisasi PGRI sangatlah dipengaruhi kepemimpinan yang relevan dengan organisasi profesi. Pemimpin yang relevan dengan organisasi profesi adalah kepemimpinan transfomasional, yaitu pemimpin yang dapat membumikan visi dan misi ke dalam realitas yang diinginkan anggotanya, memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidangnya (knowledgeable) dan mempunyai keterampilan managerial yang diakui anggotanya, inspiratif yakni keberadaannya membawa inspirasi anggota untuk melakukan praktik terbaik dalam memajukan PGRI.

Budaya organisasi profesi yang selaras dengan keinginan anggotanya akan berperan banyak di antaranya membantu rasa memiliki terhadap organisasi, menciptakan dan menumbuhkan jatidiri anggotanya, menciptakan keterikatan emosional antara organisasi dan anggotanya, membantu menciptakan stabilitas organisasi sebagai sistem sosial, menemukan pola pedoman perilaku sebagai hasil dari pada norma-norma yang berlaku di dalam organisasi PGRI. Organisasi PGRIi yang menempatkan budaya organisasi sebagai “glue” menjadikannya energi sosial untuk bergerak mengangkat harkat dan martabat profesi guru merupakan suatu jalan yang meretas keunggulan profesi, menjadikan profesi suatu kebanggaan dan mendapat pengakuan yang luas dari pemerintah dan masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here