Home Berita Terkini Asmat Terlalu Pahit untuk Dimanjakan

Asmat Terlalu Pahit untuk Dimanjakan

58
0
Foto : News Okezone

Asmat sebuah kabupaten di Papua terlalu indah bila dilupakan. Asmat menyimpan misteri hutan dan peradaban manusia yang tak rakus yang setia pada alam yang setia pada kearifan lokal. Damai, harmonis hanya ini yang terlintas di benak siapa saja yang melintasi sungai-sungai membelah belantara rimba raya. Di sini bersemayam berjenis tetumbuhan tropis, berjenis biota laut, dan budaya asli suku pedalaman yang terisolasi pencemaran budaya serta industri penghancur ekosistem hutan.

Asmat mendunia karena seni ukir karya manusia sisa dari peradaban zaman batu. Asmat pun menyita perhatian dunia yang mengabadikannya sebagai situs budaya dan kecantikan rimba raya. Tak ayal, Asmat si mutiara hitam menjadi salah target penelitian para ahli budaya dan lingkungan di kolong langit ini.

Kini Asmat bak bidadari yang merindukan pinangan sang kekasih belahan jiwa dari surga. Asmat merana, namun terlalu pahit untuk dimanjakan. Betapa tidak, di tengah wacana perubahan berbasis jargon kerja untuk Indonesia hebat, Asmat menangis lantaran sebagian masyarakatnya kelaparan, beratus anak kurus kering, perutnya membuncit kekurangan gizi. Asmat menjadi berita tak menyenangkan,  mencoreng wajah pemimpin kita yang seolah tak peduli pada sang bidadari.

Bersyukur Asmat mengingatkan semua setelah viral aksi sejumlah mahasiswa menolak kehadiran orang nomor satu di negeri ini lantaran mendengar jerit manusia di pedalaman rimba raya Asmat. Tak berapa lama kemudian, Asmat berdenyut lagi nadi ‘asmaranya’, pemerintah telah mengirim beberapa mahasiswa untuk survei yang didukung sejumlah relawan dari berbagai LSM dalam menghentikan tangis Asmat di tumpukan material pembangunan infrasturuktur Papua melapisi pencitraan pemerintah.

Romantisme Asmat di dua belas rumpun tersebar di Sembilan belas distrik hanya ada dalam ‘kesunyian’ di sejumlah film dokumenter, laporan hasil penelitian dan artikel-artikel yang menyuburkan oplah serta penghasilan ‘National Geographic’ salah satu badan publikasi dunia yang mengeksplorasi misteri ilmu pengetahuan berbasis fenemona jagat raya. Dari secuil kisah sunyi ini Kabupaten Asmat memiliki kekayaan alam di rimba luas dataran rendah bersungai surga di dalamnya.

Dokumen National Geographic mencatat surag rimba yang bisa ditawarkan sebagai wisata rimba dan warisan dunia, yakni Taman Nasional Lorenz di Distrik Sawa Erma Alam, Pesta Budaya Asmat di Distrik Agats,  tarian adat, Museum Kebudayaan dan Kerajinan Asmat di Distrik Agats, Pantai Bokap, Pantai Pek,  Pulau Sengsara/Fumaripits, Pantai Bayun di Distrik Pantai Kasuari,  Pulau Tiga/Somel di Distrik Joerat,  Pulau Lak/Mamats di Distrik Sawa Erma,  Adventure dan Rumah di Atas Pohon di Distrik Suator, Rawa Baki di Distrik Sirets.

Sayang, romantisme kini masih sebagai kisah Romeo and Juliet karya pujangga Inggris, William  Shakespeare yang hanya dibaca dan ditonton sebagai hiburan anak manusia yang haus akan cinta sejati. Tanpa ruh Asmat pun tercerabut dari skenario indah mimpi anak Indonesia di milennium ketiga yang sarat jargon Indonesia Emas. Fiksionalisasi Romeo and Juliet  drama yang paling kesohor di dunia itu tak ada apa-apanya dibandingkan romatisme-heroisme kisahnya nyata seorang ibu suku Asmat yang terjun ke sungai bak seorang Jaka Tingkir meringkus seekor buaya ganas demi menyelamatkan anaknya yang diseret ke dasar sungai.  Wow, Asmat, ayo, datang ke sana! (gunawan)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here